
Rupiah yang melemah hingga level terendah menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (5/5). Selain itu, klaim Purbaya mengenai ekonomi Indonesia yang terlepas dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5 persen. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Rupiah Tembus Level Terendah Rp 17.412 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa (5/5), mencapai level Rp 17.412 per dolar AS pada pukul 09.52 WIB. Angka ini menandai penurunan sebesar 18,00 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya, dan disebut sebagai level terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya, pada pukul 09.00 WIB, rupiah terpantau stagnan di level Rp 17.363 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar global yang masih tinggi. Mengutip data Bloomberg, pada awal perdagangan, rupiah sudah melemah 13,50 poin atau 0,08 persen ke Rp 17.407 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang terus membayangi pasar keuangan domestik.
Situasi tersebut juga sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di zona merah. Berdasarkan data Stockbit, IHSG berada di level 6.951 atau turun 0,15 persen pada pembukaan perdagangan. Tren pelemahan di pasar keuangan ini mengindikasikan sentimen negatif investor terhadap prospek ekonomi jangka pendek.
Purbaya: Indonesia Terlepas dari Kutukan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim Indonesia telah berhasil terlepas dari “kutukan” pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran 5 persen. Klaim ini didasarkan pada capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (yoy), meningkat signifikan dari 5,39 persen pada kuartal IV 2025. Angka ini dinilai menunjukkan akselerasi laju ekonomi di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Purbaya menekankan bahwa pencapaian 5,61 persen merupakan prestasi luar biasa yang mengindikasikan ekonomi domestik mulai bergerak menuju pertumbuhan yang lebih cepat. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai berbagai tantangan ke depan, terutama yang berasal dari kondisi global yang belum sepenuhnya pulih. Tekanan eksternal masih berpotensi memengaruhi kinerja ekspor dan stabilitas ekonomi nasional.
Untuk menjaga momentum positif ini, pemerintah akan fokus memperkuat permintaan domestik sekaligus mendorong sektor-sektor berorientasi ekspor agar tetap kompetitif di pasar global. Kementerian Keuangan juga tengah menyiapkan sejumlah inisiatif kebijakan jangka pendek untuk menopang keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.