Presiden Prabowo Subianto menyerukan langkah-langkah darurat di hadapan forum regional ASEAN, menyoroti tekanan berkelanjutan dari gangguan rantai pasok global terhadap situasi energi negara-negara anggota. Dalam pidatonya yang lugas, beliau menekankan pentingnya perombakan arsitektur energi secara mendesak melalui diversifikasi yang tidak dapat ditawar lagi.
Menanggapi tantangan ini, Prabowo memaparkan komitmen konkret Indonesia dalam memperkuat sektor energi terbarukan. “Indonesia sedang mengambil langkah nyata dengan membangun program energi surya ambisius sebesar 100 gigawatt yang akan selesai dalam tiga tahun,” ungkap Prabowo saat pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Jumat (8/5). Program masif ini, bersama dengan pengembangan bioenergi dan percepatan penggunaan kendaraan listrik, diproyeksikan menjadi pilar utama dalam membangun ketahanan energi nasional Indonesia yang lebih tangguh.
Selain fokus pada energi, Prabowo juga menggarisbawahi urgensi menjaga jalur perdagangan maritim di kawasan agar tetap aman dari berbagai gangguan. Stabilitas perairan ASEAN dinilai sebagai kunci utama untuk mencegah potensi krisis pangan global, mengingat gangguan sekecil apa pun di jalur tersebut akan berdampak langsung pada distribusi kebutuhan pokok dunia. “Setiap gangguan di perairan kita tak hanya meng-destabilisasi rantai pasokan global, tapi juga mengganggu sistem pasokan pangan,” tegasnya, memperingatkan dampak luas yang bisa timbul.
Ketahanan Pangan dan Ancaman El Nino
Dalam konteks ancaman ekstrem El Nino yang kini membayangi kawasan, Presiden Prabowo mendesak peningkatan kerja sama teknologi dan pertukaran informasi pangan yang lebih intensif di antara negara-negara anggota ASEAN. Beliau secara tegas menyatakan bahwa urusan pertanian, yang menyangkut kedaulatan dan kelangsungan hidup rakyat, tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada pihak swasta.
“Kita harus memajukan cadangan pangan berbasis lokal. Ketahanan pangan adalah tentang kepemimpinan pemerintah, intervensi pemerintah. Indonesia tidak percaya bahwa pertanian hanya boleh diserahkan kepada sektor swasta. Pertanian terlalu penting. Ketahanan pangan itu penting,” kata Prabowo, menegaskan posisi Indonesia. Beliau meyakini bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab penuh pemerintah, menjadikannya fondasi esensial bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Tanpa ketersediaan pangan yang memadai bagi masyarakat, stabilitas dan perdamaian di kawasan akan sulit terwujud. “Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada perdamaian,” pungkas Prabowo, menggambarkan betapa fundamentalnya pangan bagi eksistensi sebuah peradaban.