Ringkasan Berita:
- Mimpi Buruk Mantan: Adam Alis, pemain kelahiran Jakarta dan eks Persija, mencetak brace (dua gol) yang membalikkan keadaan menjadi 1-2 untuk kemenangan Persib.
- Persija Gugur: Kekalahan ini membuat Persija (65 poin) tertinggal 10 poin dari Persib (75 poin). Dengan sisa dua laga, peluang juara Macan Kemayoran resmi tertutup.
- Pacuan Gelar Juara: Persib kini hanya bersaing ketat dengan Borneo FC (72 poin) yang masih menyisakan tiga pertandingan.
Kita Tekno SAMARINDA – Sebuah ironi menyakitkan bagi Persija Jakarta terjadi di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (10/5/2026).
Harapan Macan Kemayoran untuk menjuarai Super League Indonesia 2025/2026 resmi terkubur di tangan “anak Jakarta” yang kini berkostum biru, Adam Alis.
Persib Bandung sukses membungkam rival abadi mereka dengan skor tipis 2-1 melalui laga yang berlangsung dramatis dan emosional.
Hasil ini membuat Persib semakin kokoh di puncak klasemen dengan 75 poin, meninggalkan Persija di posisi ketiga dengan selisih 10 poin yang mustahil dikejar dalam dua laga sisa.
Sengatan Sang Mantan
Laga yang disebut pelatih Bojan Hodak sebagai “Derby Terbesar di Asia Tenggara” ini awalnya berpihak pada Persija yang unggul lebih dulu.
Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat.
Adam Alis, pemain kelahiran Jakarta yang pernah membela Persija, tampil spartan dan memborong dua gol kemenangan bagi Maung Bandung.
“Pertandingan yang sangat berat. Di babak pertama kami kelelahan dan sempat tertinggal.”

“Akhirnya saya bisa membalikkan kedudukan. Yang terpenting tiga poin untuk fokus menjadi juara di dua laga sisa,” ujar Adam Alis usai pertandingan.
Terkait keberhasilannya yang selalu mencetak gol di Stadion Segiri—setelah sebelumnya menjebol gawang Borneo FC—Adam memilih merendah.
“Mungkin saya memang cocok bermain di sini. Tapi tidak penting siapa yang cetak gol, yang penting kemenangan tim,” tambah pemilik nomor punggung 18 tersebut.
Keluhan dari Kubu Persija Di sisi lain, kekecewaan mendalam menyelimuti kubu Persija Jakarta.
Fabio Calonego menyayangkan kegagalan timnya mengonversi peluang meski secara statistik mereka tampil dominan di lapangan.
“Inilah sepak bola, tim yang main lebih baik tidak selalu menang. Kami punya banyak peluang tapi tidak bisa dimanfaatkan,” keluh Fabio.
Tak hanya soal hasil, Fabio juga melontarkan kritik pedas terkait pemindahan venue pertandingan ke Samarinda.
Ia menilai kualitas lapangan Stadion Segiri sangat buruk bagi tim yang mengandalkan permainan dari kaki ke kaki seperti Persija.
“Saya heran kenapa pertandingan dibawa ke sini. Jika tidak bisa di Jakarta, carilah lapangan yang lebih baik di tempat lain.”
“Persija main kaki ke kaki, sementara Persib main direct ball. Lapangan jelek seperti ini merugikan kami,” tegasnya.
Kini, persaingan gelar juara Super League 2025/2026 mengerucut pada duel dua tim: Persib Bandung (75 poin) dan Borneo FC (72 poin).
Persib wajib menyapu bersih dua laga tersisa jika tidak ingin disalip oleh Pesut Etam yang masih memiliki tabungan tiga pertandingan.(*)