5 ton sampah organik di Pasar Kramat Jati disulap menjadi pupuk

Photo of author

By AdminTekno

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/5).

Kunjungan itu merupakan tindak lanjut program pemilahan sampah yang sedang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta.

“Hari ini sebagai tindak lanjut dari program pemilahan sampah yang kemarin sudah kita canangkan, maka Pemerintah DKI Jakarta melalui Pasar Jaya akan bekerja sama dengan masyarakat yang mempunyai consent untuk penanganan sampah, terutama sampah organik dan anorganik,” kata Pramono.

Menurut Pramono, Pasar Kramat Jati sendiri menghasilkan sekitar 5 ton sampah organik setiap harinya.

“Seperti kita ketahui di tempat ini (Kramat Jati) kurang lebih setiap hari 5 ton ya,” ucapnya.

Ke depannya, Pemprov DKI akan menggandeng perusahaan swasta dan BUMN dalam menghasilkan produk yang bermanfaat, termasuk pemanfaatan pupuk organik yang dihasilkan.

“Nanti bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menghasilkan output yang akan bermanfaat bagi pertamanan dan juga yang lainnya, dan juga dengan Pupuk Indonesia,” kata Pramono.

Sampah yang dihasilkan dari pasar Kramat Jati tersebut, kemudian diolah langsung di tempat menggunakan teknologi hidrotermal melalui tujuh tahapan. Sampah dipilah berdasarkan kategori, ditimbang, lalu dicacah sebelum dimasukkan ke mesin hidrotermal.

Di dalam mesin, sampah menjalani proses reaksi pengadukan selama kurang lebih satu jam, kemudian disaring untuk memisahkan ampas dan cairan booster.

Pramono menjelaskan, dari proses pengolah itu, dihasilkan dua jenis pupuk organik.

“Ada dua, yang satu berupa cairan, yang satu berupa komposit, nanti akan bisa jadi pupuk organik,” ujar Pramono.

Pramono menjelaskan, selama ini 153 pasar kelolaan Pasar Jaya menyumbang sekitar 500 ton sampah per hari ke Bantar Gebang. Dengan pengolahan langsung di tingkat pasar, ia berharap angka itu bisa dipangkas secara signifikan melalui program serupa.

“Seperti diketahui, dari pasar-pasar yang dikelola oleh Pasar Jaya ada 153 pasar, kurang lebih 500 ton yang selama ini dikirim ke Bantar Gebang. Maka dengan penanganan ini kami mengharapkan betul-betul akan berkurang secara signifikan,” ujarnya.

Terkait sarana dan prasarana yang dinilai masih minim di tingkat rumah tangga, Pramono mengakui program ini baru saja dimulai. Namun ia memastikan instruksi sudah diteruskan hingga ke jajaran paling bawah.

“Gerakannya baru kemarin dimulai, dan tetapi saya sudah menginstruksikan baik itu kepada Wali Kota, Camat, Lurah, RT, RW. Jadi ini gerakannya adalah gerakan yang masif,” kata Pramono.

Sarana dan prasarana di tingkat masyarakat, kata Pramono, akan disiapkan secara bertahap.

“Dan secara perlahan, tentunya sarana prasarananya juga akan kami persiapkan. Tetapi yang paling penting adalah ini harus berkelanjutan, tidak boleh berhenti karena inilah yang akan mengubah wajah Jakarta berkaitan dengan persampahan,” tegasnya.

Program ini dijalankan berdasarkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah. Pramono menekankan keberhasilan program sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan.

“Kalau itu bisa dijalankan gerakan untuk pemilahan sampah sesuai dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, mudah-mudahan akan berjalan dengan baik dan akan bisa mengatasi persoalan sampah, yang akan membawa manfaat, lebih green karena bisa sebagai fertilizer dari yang organik,” pungkasnya.

Leave a Comment