Ekonom Nilai Kenaikan Suku Bunga BI Positif untuk Selamatkan Rupiah dan Inflasi

Photo of author

By AdminTekno

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25 persen dinilai ekonom sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam risiko inflasi impor di tengah meningkatnya tekanan global. Meski begitu, kebijakan moneter yang lebih ketat dinilai belum cukup jika persoalan struktural ekonomi domestik belum dibenahi.

Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual menilai keputusan BI menaikkan suku bunga setelah tujuh kali menahannya merupakan langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan risiko inflasi ke depan. Menurut dia, kebijakan bank sentral saat ini berupaya menjaga stabilitas sebelum tekanan ekonomi menjadi lebih besar.

“Ekspektasi inflasi meningkat ke depan, kebijakan BI antisipatif dan ahead of the curve,” kata David kepada kumparan, Rabu (20/5).

Ia menilai langkah BI berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pasar, terutama terhadap pergerakan rupiah yang belakangan tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari ketegangan geopolitik AS-Iran, kenaikan harga energi, hingga arus keluar modal dari negara berkembang.

“Dampaknya akan memberikan sentimen positif,” ujarnya.

Meski demikian, David mengingatkan penguatan rupiah tidak bisa semata-mata ditopang oleh kebijakan suku bunga. Menurut dia, terdapat sejumlah persoalan mendasar yang juga perlu diselesaikan agar tekanan terhadap mata uang domestik dapat lebih berkelanjutan.

“Iya positif bagi rupiah tapi isu-isu lain terkait masalah struktural juga harus dibereskan,” katanya.

Untuk jangka pendek, David memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah dalam satu bulan ke depan masih bergerak di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

“Saya proyeksi dalam jangka pendek, sebulan ke depan rupiah Masih Rp 17.500-18.000 per dolar AS,” ujarnya.

Sementara itu, ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai langkah BI menaikkan suku bunga lebih tinggi dari ekspektasi pasar menunjukkan fokus bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Menurut analisis Danamon, langkah tersebut juga menjadi upaya BI untuk tetap selangkah lebih maju menghadapi risiko ekonomi global.

Bank Danamon menilai depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang telah mencapai 5,7 persen secara year-to-date berpotensi memicu inflasi impor. Pelemahan rupiah berlebihan dinilai dapat meningkatkan kemungkinan kenaikan sejumlah harga komoditas dan barang seperti Pertamax 92, Pertamax Green 95, tarif listrik, daging merah, gandum, hingga plastik.

“Pergeseran ke arah kebijakan pengetatan ini merupakan upaya BI untuk tetap berada selangkah di depan risiko (ahead of the curve), terutama setelah depresiasi USD/IDR sebesar 5,7 persen secara ytd yang berpotensi mendorong inflasi impor,” kata Hosiana.

Di saat yang sama, Hosiana mengatakan, BI juga memperkuat bauran kebijakan melalui peningkatan intervensi di pasar valas, kenaikan imbal hasil SRBI tenor 12 bulan menjadi 6,45 persen, serta tetap melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan.

Di sisi lain, BI masih mempertahankan kebijakan makroprudensial yang longgar melalui tambahan insentif likuiditas serta pelonggaran aturan intermediasi untuk menjaga penyaluran kredit dan menopang pertumbuhan ekonomi domestik.

Leave a Comment