Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, dengan tegas menyerukan kepada seluruh pihak untuk menahan diri. Beliau juga mengimbau pentingnya perdamaian serta mendorong aparat keamanan agar senantiasa mengedepankan dialog persuasif dalam mengamankan setiap aksi unjuk rasa. Seruan penting ini disampaikan oleh Kiai Miftachul menyikapi insiden tragis yang menimpa Affan Kurniawan, seorang driver ojek online (ojol), yang tewas terlindas mobil rantis Brimob saat demo ricuh pada Kamis (28/8) malam.
Menekankan perlunya kebijaksanaan, KH Miftachul Akhyar secara spesifik meminta aparat keamanan untuk “senantiasa sabar dan menahan diri, agar tidak terjadi benturan yang dapat merugikan semua pihak.” Pernyataan ini disampaikan pada Jumat (29/8), sebagaimana dikutip dari Antara, menyoroti urgensi pendekatan yang lebih humanis dalam penanganan massa.
Dalam suasana duka yang mendalam, Rais Aam PBNU ini juga menyampaikan belasungkawa tulus kepada keluarga Affan Kurniawan. “Kami keluarga besar Nahdlatul Ulama turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran,” tuturnya, menyiratkan solidaritas dan empati seluruh warga NU.
Beliau menegaskan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak konstitusional warga negara yang fundamental dan harus dihormati sepenuhnya oleh setiap elemen masyarakat. Meski demikian, Miftachul juga mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi atau bertindak anarkis yang justru dapat memperkeruh situasi dan merugikan tujuan unjuk rasa itu sendiri.
Merujuk pada pentingnya persatuan nasional, KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa arahan dari Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hendaknya menjadi pedoman bersama. Pedoman tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta persaudaraan nasional melalui cara-cara yang damai, tanpa kekerasan, dan tanpa provokasi. “Perbedaan pendapat harus disalurkan dengan cara yang damai dan bermartabat. Jangan sampai aksi menyuarakan aspirasi justru melahirkan korban jiwa dan merugikan bangsa dan negara,” tegas Rais Aam, menggarisbawahi dampak fatal dari kekerasan.
Sebagai penutup, KH Miftachul Akhyar mengajak seluruh elemen bangsa untuk senantiasa menjaga persaudaraan, keamanan, dan ketertiban. “PBNU mengajak seluruh warga NU untuk menjadi peneduh di tengah masyarakat,” pungkasnya, menegaskan peran Nahdlatul Ulama dalam menciptakan suasana kondusif dan harmonis di tengah perbedaan.
Pesan Redaksi: Unjuk rasa adalah hak warga negara dalam berekspresi secara demokratis. Demi kepentingan bersama, sangat dianjurkan agar setiap demonstrasi disalurkan secara damai, menjauhkan diri dari tindakan anarkis seperti penjarahan maupun perusakan fasilitas publik.
Ringkasan
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menyerukan semua pihak untuk menahan diri pasca tragedi yang menimpa Affan Kurniawan. Beliau menekankan pentingnya perdamaian dan mengimbau aparat keamanan untuk mengedepankan dialog persuasif dalam mengamankan demonstrasi, serta meminta agar aparat sabar dan menahan diri agar tidak terjadi benturan.
KH Miftachul Akhyar juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Affan Kurniawan dan menegaskan hak warga negara untuk menyampaikan aspirasi. Beliau mengingatkan pentingnya persatuan nasional, mengikuti arahan Presiden dan Kapolri, serta mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persaudaraan, keamanan, dan ketertiban dengan damai.