Pramono Anung: Dulu Demonstran, Kini Tak Ikut Demo Jakarta?

Photo of author

By AdminTekno

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuat keputusan strategis untuk tidak hadir di tengah massa saat aksi demo yang berujung ricuh. Pramono mengungkapkan bahwa latar belakangnya sebagai mantan aktivis menjadi alasan utama di balik keputusannya, demi memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri.

“Kenapa saya kemudian tidak datang di demonstrasi? Teman-teman sekalian, saya ini demonstran. Saya ini Ketua Dewan Mahasiswa ITB. Saya ini 10 tahun di Istana,” kata Pramono saat menjelaskan alasannya di Balai Kota, Jakarta Pusat, Sabtu (30/8). Pengalaman panjangnya dalam berinteraksi dengan dinamika aspirasi publik, baik sebagai bagian dari gerakan mahasiswa maupun saat berada di lingkaran kekuasaan, membentuk pandangannya yang unik terhadap demonstrasi.

Menurutnya, kehadiran seorang pemimpin dalam situasi aksi massa justru dapat memicu beragam reaksi dan potensi salah tafsir. Ia secara tegas menyatakan tidak ingin dianggap “mengambil alih panggung” aspirasi rakyat, sebuah prinsip yang ia pegang teguh. “Sehingga kalau sedang terjadi demo orang seperti itu, kemunculan pimpinannya, tidak semuanya senang. Jadi ruang itu memang ruang untuk bagaimana orang mengekspresikan dirinya,” ujar Pramono, menekankan pentingnya otentisitas ekspresi massa.

Meski memilih untuk tidak tampil di muka publik saat demonstrasi, Pramono menegaskan bahwa dirinya tetap memantau situasi di lapangan dengan seksama. Ia mencontohkan, “Orang tidak menyangka bahwa jam setengah enam pagi saya sudah di titik di lapangan (melayat Affan). Kenapa saya lakukan itu? Supaya tidak ketemu kalian semua, teman-teman wartawan. Supaya saya bisa lebih leluasa, lebih bebas untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya.” Ini menunjukkan pendekatannya yang strategis untuk mendapatkan gambaran utuh tanpa mengintervensi langsung.

Pramono juga mengingatkan kembali pengalamannya yang luas dalam menghadapi berbagai aksi massa, mulai dari masa kuliah hingga saat menjabat sebagai Wakil Ketua DPR. “Bahkan ketika menjadi pimpinan DPR pun saya tahu karakter psikologi dari massa. Mereka tidak semua senang kalau kemudian ada pemimpin yang tampil ketika sedang mereka mengekspresikan dirinya. Saya ini mantan demonstran,” tuturnya. Pemahaman mendalamnya tentang psikologi kerumunan menjadi dasar kuat bagi keputusannya untuk memberi ruang bagi demonstran.

Pendekatan ini, menurut Pramono, adalah refleksi dari karakternya yang menghargai ruang ekspresi publik dan bukan upaya untuk menghindari tanggung jawab. “Saya sama sekali tidak mau tampil untuk katakan lah dilihat panggungnya, saya mengambil alih panggung itu. Enggak, ini memang karakter saya,” pungkasnya, menegaskan konsistensinya terhadap prinsip tersebut.

Pesan redaksi:

Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.

Daftar Isi

Ringkasan

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memilih untuk tidak hadir dalam aksi demonstrasi karena pengalamannya sebagai mantan aktivis. Ia ingin memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri tanpa merasa “panggungnya diambil alih” oleh seorang pemimpin.

Pramono tetap memantau situasi demonstrasi dari jauh dan memahami psikologi massa berdasarkan pengalamannya. Ia menekankan bahwa tindakannya ini bukan untuk menghindari tanggung jawab, melainkan refleksi dari karakternya yang menghargai ruang ekspresi publik.

Leave a Comment