Hormuz ditutup lagi, 2 kapal Pertamina yang hendak melintas kembali terjebak

Photo of author

By AdminTekno

Iran secara mendadak kembali memberlakukan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat dibuka. Kondisi ini secara langsung mengakibatkan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih terjebak di area tersebut, menanti kejelasan situasi.

Menanggapi perkembangan krusial ini, Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa PIS terus melakukan pemantauan saksama terhadap dinamika yang terjadi. “Kedua kapal PIS, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, saat ini masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melanjutkan pelayaran melintasi Selat Hormuz. PIS akan terus memantau dengan cermat perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” jelasnya dalam keterangan tertulis pada Minggu (19/4).

Lebih lanjut, PIS tidak tinggal diam. Perusahaan aktif melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian dan otoritas berwenang, serta terus menyusun perencanaan pelayaran alternatif demi menjamin keamanan. Vega menyebutkan bahwa prioritas utama PIS saat ini adalah aspek keselamatan, baik bagi awak kapal maupun muatan yang diangkut. “Kami berharap kondisi di jalur pelayaran krusial tersebut dapat segera membaik dan menjadi kondusif, agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman,” tambah Vega.

Sebagai konteks, penutupan ini terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, sebelumnya menyatakan bahwa jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz telah dibuka sepenuhnya. Pengumuman tersebut dikaitkan dengan adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Namun, hanya berselang beberapa jam, militer Iran secara mengejutkan kembali memberlakukan penutupan selat tersebut.

Keputusan tegas militer Iran ini diklaim sebagai respons atas terus berlanjutnya blokade oleh Amerika Serikat (AS) terhadap aktivitas keluar-masuk kapal di pelabuhan Iran. Konflik berkepanjangan ini terus menciptakan ketidakpastian bagi jalur pelayaran internasional, termasuk bagi kepentingan logistik energi Indonesia.

Leave a Comment