
Kita Tekno – – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase penentuan. Gencatan senjata sementara yang berlangsung selama dua pekan dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4) esok tanpa kepastian apakah perundingan lanjutan akan terjadi atau justru konflik kembali memanas.
Gencatan senjata ini sebelumnya disepakati pada 8 April, menyusul lebih dari 40 hari konflik intens. Namun, upaya diplomasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, belum menunjukkan hasil signifikan. Iran disebut enggan melanjutkan negosiasi di tengah tekanan militer dan ancaman dari Washington.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap optimistis pembicaraan bisa berlanjut. Meski begitu, sinyal keras justru datang dari Presiden AS, Donald Trump.
Selama Ketegangan di Selat Hormuz, Trump Sempat Hubungi Jenderal Pakistan
Trump: Tak Ada Waktu untuk Perpanjang Gencatan
Dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (21/5) Trump menegaskan tidak tertarik memperpanjang gencatan senjata jika belum ada kesepakatan konkret.
“Saya tidak mau melakukan itu. Kita tidak punya banyak waktu,” kata Trump saat ditanya soal kemungkinan perpanjangan gencatan senjata.
Ia juga menyebut posisi negosiasi AS saat ini kuat dan yakin akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan. Namun, di saat yang sama, Trump memperingatkan bahwa serangan militer bisa kembali dilancarkan jika Iran tidak segera menyepakati kesepakatan.
“Saya berharap akan melakukan pengeboman karena saya pikir itu adalah sikap yang lebih baik untuk diterima. Tapi kami siap untuk berangkat. Maksudku, militer sedang bersemangat untuk pergi,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.
Diplomasi Mandek, Iran Masih Ragu
Perundingan yang dimediasi di Islamabad dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Meski Washington menyatakan yakin Iran akan hadir, pejabat Teheran masih mempertimbangkan keikutsertaan mereka.
Iran menilai negosiasi berlangsung di bawah ‘bayang-bayang ancaman’, terutama akibat blokade laut AS dan pernyataan keras Trump.
Situasi ini membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat semakin tipis.
Empat Skenario yang Mungkin Terjadi
Sementara itu, mengutip News18, seiring mendekatnya tenggat waktu, analis memetakan empat kemungkinan yang bisa terjadi setelah gencatan senjata berakhir:
1. Kesepakatan Sementara (Interim Deal)
Ini menjadi skenario paling optimistis. Kedua pihak bisa menyepakati nota kesepahaman sementara untuk memperpanjang waktu diplomasi.
Fokusnya adalah pertukaran konsesi nuklir dengan pelonggaran sanksi. Namun, isu pengayaan uranium Iran masih menjadi hambatan utama.
2. Gencatan Diperpanjang Tanpa Kesepakatan
Negosiasi bisa saja buntu, tetapi kedua pihak memilih memperpanjang gencatan senjata demi menghindari perang terbuka. Meski demikian, situasi tetap rapuh dan berisiko memicu konflik sewaktu-waktu.
3. Tanpa Kesepakatan, Tapi Juga Tanpa Perang
Jika perundingan benar-benar gagal, kedua pihak mungkin menahan diri dari eskalasi langsung. Iran bisa memperkuat hubungan dengan Tiongkok dan Rusia, sementara AS mempertahankan blokade.
Kondisi ini menciptakan situasi ‘tidak perang, tidak damai’ yang berpotensi mengguncang pasar energi global.
4. Gencatan Gagal, Perang Kembali Meletus
Ini adalah skenario terburuk. Jika gencatan berakhir tanpa perpanjangan atau kesepakatan, konflik militer bisa langsung kembali terjadi. Trump bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, sementara Teheran memperingatkan akan membuka ‘kartu baru’ di medan perang.
Eskalasi ini juga berisiko meluas ke kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon, Irak, hingga jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah perundingan akan berlangsung sebelum tenggat waktu. Para analis menilai peluang tercapainya kesepakatan penuh dalam waktu singkat cukup kecil.
Dua kemungkinan yang paling realistis adalah perpanjangan gencatan senjata secara rapuh atau justru kegagalan total yang memicu kembali konflik terbuka.
Dunia kini menunggu keputusan dalam hitungan jam, apakah diplomasi masih punya ruang, atau perang kembali menjadi pilihan.