
Pemerintah tengah merancang skema baru insentif kendaraan listrik yang lebih terarah. Salah satu fokusnya adalah memberikan subsidi lebih besar untuk mobil listrik berbasis nikel.
Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut skema insentif masih dalam tahap pembahasan. Ia menegaskan, kebijakan ini akan menjadi bagian dari strategi penguatan industri kendaraan listrik nasional.
Menurutnya, skema insentif akan dibedakan berdasarkan jenis teknologi baterai yang digunakan. Pemerintah juga mempertimbangkan pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah dengan besaran berbeda.
“PPN ditanggung pemerintah itu ada yang 100 persen, ada yang 40 persen. Nanti masih disusun skemanya. Itu untuk utamanya EV yang bukan hybrid,” ujar Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa edisi April 2026 di Jakarta, Selasa (5/5).

Ia menjelaskan, perbedaan skema akan berlaku untuk kendaraan listrik berbasis nikel dan non-nikel. Namun, rincian teknis kebijakan tersebut nantinya akan disampaikan oleh kementerian terkait.
“Jadi yang baterainya berdasarkan nikel sama yang non-nikel akan beda skemanya. Tapi yang itu nanti Menteri Perindustrian yang akan menjelaskan,” katanya.
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan alasan di balik rencana pemberian subsidi lebih besar untuk baterai berbasis nikel. Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia.

“Kenapa saya pakai yang nikel lebih besar subsidinya? Karena supaya nikel kita kepakai,” ucapnya.
Ia menyinggung bahwa sebelumnya ada keraguan terkait dominasi Indonesia dalam industri baterai global. Hal ini lantaran beberapa negara termasuk China, mulai mengembangkan teknologi baterai non-nikel.
“Dulu saya baca, ada yang bilang mimpi Indonesia menguasai dunia baterai hilang karena China pakai bukan nikel. Jadi sekarang kita balik, nikelnya kita pakai,” katanya.

Menurut Purbaya, pengembangan baterai berbasis nikel juga dinilai memiliki potensi teknologi yang lebih maju. Ia menyebut, berdasarkan diskusi dengan para ahli, baterai nikel termasuk dalam generasi yang lebih mutakhir.
“Katanya, yang nikel itu third generation. Kalau yang LFP itu second generation. Jadi kita geraknya ke sana supaya sumber daya kita bisa dipakai maksimal,” tutupnya.