Kita Tekno – , JAKARTA — Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat Tulsi Gabbard resmi mengundurkan diri dari pemerintahan Presiden Donald Trump di tengah menguatnya isu keretakan internal kabinet terkait perang Iran dan kebijakan luar negeri Washington.
Gabbard menyampaikan pengunduran dirinya pada Jumat dengan alasan ingin fokus mendampingi suaminya yang tengah berjuang melawan kanker tulang langka. Namun di balik alasan personal tersebut, perbedaan sikap antara dirinya dan Trump terkait konflik Iran disebut telah lama memicu ketegangan di lingkaran dalam Gedung Putih.
Dalam surat pengunduran dirinya yang diunggah di media sosial, Gabbard mengatakan ia akan meninggalkan jabatan yang mengawasi koordinasi 18 badan intelijen AS mulai 30 Juni mendatang.
“Pada saat ini, saya harus meninggalkan pelayanan publik untuk berada di sisinya dan mendukung penuh perjuangannya melawan penyakit ini,” tulis Gabbard.
Trump merespons pengunduran diri itu dengan memuji kinerja Gabbard selama menjabat.
“Tulsi telah melakukan pekerjaan luar biasa, dan kami akan merindukannya,” tulis Trump di media sosial.
Trump juga menunjuk Aaron Lukas sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional menggantikan Gabbard.
Meski pengunduran diri itu disebut karena alasan keluarga, sejumlah pengamat menilai posisi Gabbard sebenarnya semakin sulit dipertahankan setelah Washington memutuskan bergabung dengan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Gabbard, mantan anggota Kongres dari Hawaii dan veteran militer AS, selama ini dikenal sebagai tokoh anti-intervensi yang keras menolak perang luar negeri Amerika Serikat. Sikap tersebut membuatnya beberapa kali berada dalam posisi berbeda dengan Trump dan kelompok hawkish di pemerintahan AS.
Ketegangan itu mulai terlihat setelah serangan Amerika Serikat terhadap Iran memicu kekhawatiran eskalasi besar di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Dalam sidang Kongres pada Maret lalu, Gabbard berulang kali menghindari pertanyaan apakah komunitas intelijen telah memperingatkan Gedung Putih mengenai potensi dampak perang Iran.
Ia juga sempat membuat pernyataan yang bertentangan dengan narasi Trump terkait ancaman nuklir Iran. Dalam laporan tertulis kepada Komite Intelijen Senat, Gabbard menyebut tidak ada tanda Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya setelah serangan militer AS tahun lalu.
Pernyataan itu berbeda dengan klaim Trump yang berkali-kali menyebut perang diperlukan untuk menghentikan ancaman langsung dari Republik Islam Iran.
“Bukan tanggung jawab komunitas intelijen untuk menentukan apakah sebuah ancaman itu mendesak atau tidak,” kata Gabbard dalam salah satu sidang Kongres.
Pengunduran diri Gabbard semakin menambah daftar pejabat tinggi perempuan yang meninggalkan kabinet Trump periode kedua. Sebelumnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dicopot di tengah kritik terhadap kebijakan imigrasi dan penanganan bencana.
Jaksa Agung Pam Bondi juga mundur setelah Departemen Kehakiman menuai sorotan terkait penanganan dokumen Jeffrey Epstein. Sementara Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer mengundurkan diri setelah menghadapi sejumlah penyelidikan dugaan pelanggaran etik.
Aaron Lukas, yang kini ditunjuk sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional, sebelumnya dikenal sebagai analis kebijakan di Cato Institute serta pernah menjadi ajudan intelijen Ric Grenell pada masa pemerintahan pertama Trump.
Trump Kian Ditinggalkan Orang-Orang Dekatnya?
Pengunduran diri Tulsi Gabbard memperpanjang daftar pejabat tinggi yang meninggalkan pemerintahan Presiden Donald Trump di periode keduanya. Situasi itu memunculkan pertanyaan baru di Washington: apakah Trump mulai kehilangan soliditas lingkaran dalam pemerintahannya sendiri?
Dalam beberapa bulan terakhir, satu per satu pejabat penting pemerintahan Trump tersingkir, mengundurkan diri, atau terlibat konflik internal. Fenomena tersebut memperlihatkan meningkatnya tekanan politik di Gedung Putih, terutama setelah Amerika Serikat semakin dalam terlibat dalam konflik Timur Tengah dan menghadapi berbagai persoalan domestik.
Tulsi Gabbard menjadi figur terbaru yang keluar dari kabinet setelah muncul perbedaan pandangan terkait perang Iran. Sebelumnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem juga dicopot di tengah kritik keras terhadap kebijakan imigrasi dan penanganan krisis domestik.
Jaksa Agung Pam Bondi ikut meninggalkan pemerintahan setelah Departemen Kehakiman disorot terkait penanganan dokumen Jeffrey Epstein. Sementara Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer mundur di tengah penyelidikan dugaan pelanggaran etik.
Gelombang hengkangnya pejabat tinggi perempuan di kabinet Trump memunculkan spekulasi tentang memburuknya stabilitas internal pemerintahan AS menjelang meningkatnya tensi geopolitik global.
Sejumlah analis politik Amerika menilai konflik Iran menjadi salah satu titik sensitif yang memperlihatkan perpecahan di dalam pemerintahan Trump. Kelompok pendukung intervensi militer mulai berhadapan dengan kubu yang menolak keterlibatan lebih jauh Amerika dalam perang luar negeri.
Gabbard selama ini dikenal sebagai tokoh anti-perang yang menolak intervensi militer AS di berbagai kawasan dunia. Sikap itu dinilai bertabrakan dengan langkah Trump yang semakin agresif di Timur Tengah, terutama setelah Washington bergabung dengan Israel menyerang Iran.
Tidak hanya di kabinet, ketegangan juga mulai terasa di komunitas intelijen dan keamanan nasional AS. Sebelumnya, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Joe Kent bahkan memilih mundur karena mengaku tidak dapat mendukung perang Iran “dengan hati nurani.”
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konflik luar negeri kini mulai memicu tekanan serius terhadap kohesi internal pemerintahan Trump.
Bagi Trump, keluarnya sejumlah pejabat penting di tengah meningkatnya ketegangan global dapat menjadi tantangan politik tersendiri. Apalagi pemerintahan periode keduanya sejak awal dipenuhi agenda keras mulai dari imigrasi, perang dagang, hingga kebijakan luar negeri yang kontroversial.
Meski Gedung Putih berusaha menampilkan situasi tetap terkendali, mundurnya sejumlah tokoh penting menunjukkan bahwa dinamika internal pemerintahan Trump saat ini jauh dari stabil.
Tulsi Gabbard eks Direktur Intelijen Amerika – (tangkapan layar) Trump Kehilangan Stabilitas Kabinetnya?
Gelombang mundur dan tersingkirnya sejumlah pejabat tinggi mulai memunculkan pertanyaan serius mengenai stabilitas kabinet Presiden Donald Trump pada periode keduanya. Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan tekanan politik domestik, Gedung Putih dinilai menghadapi dinamika internal yang semakin rapuh.
Pengunduran diri Tulsi Gabbard menjadi sorotan terbaru setelah sebelumnya beberapa pejabat penting lain juga meninggalkan pemerintahan dalam waktu berdekatan. Situasi ini memperlihatkan tingginya tekanan politik di lingkaran dalam Trump.
Dalam hitungan bulan, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dicopot di tengah kritik terhadap kebijakan imigrasi dan penanganan krisis domestik. Jaksa Agung Pam Bondi juga mundur setelah Departemen Kehakiman diterpa kontroversi penanganan dokumen Jeffrey Epstein.
Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer mengundurkan diri setelah menghadapi serangkaian penyelidikan dugaan pelanggaran etik.
Rentetan perubahan tersebut membuat pemerintahan Trump mulai dipandang mengalami turbulensi internal yang tidak kecil, terutama karena sebagian besar pejabat yang hengkang berasal dari posisi strategis kabinet dan keamanan nasional.
Situasi semakin sensitif karena terjadi di tengah konflik Iran yang memecah pandangan elite pemerintahan AS. Sebagian pejabat mendorong pendekatan militer lebih agresif, sementara kubu lain khawatir Amerika kembali terjebak dalam perang panjang di Timur Tengah.
Perbedaan pandangan itu terlihat jelas dalam kasus Tulsi Gabbard yang selama ini dikenal sebagai tokoh anti-intervensi. Sikapnya yang berhati-hati terhadap perang Iran beberapa kali bertentangan dengan narasi keras Gedung Putih.
Bagi banyak pengamat politik Washington, kondisi tersebut menunjukkan pemerintahan Trump mulai menghadapi persoalan kohesi internal. Ketika tekanan geopolitik meningkat, kabinet yang tidak solid berpotensi memperlemah pengambilan keputusan strategis di tingkat nasional.
Selain konflik luar negeri, Trump juga masih menghadapi tekanan domestik mulai dari isu imigrasi, ekonomi, hingga polarisasi politik yang tajam di Amerika Serikat. Kombinasi berbagai krisis tersebut membuat stabilitas kabinet menjadi faktor penting dalam menjaga arah pemerintahan.
Meski Trump tetap berupaya menampilkan citra kepemimpinan yang kuat, keluarnya sejumlah pejabat penting dalam waktu berdekatan memperlihatkan bahwa dinamika internal Gedung Putih saat ini sedang berada dalam tekanan yang serius.