
Kita Tekno – , MIMIKA — Duka mendalam masih menyelimuti keluarga almarhumah Nalince Wamang, korban penembakan di wilayah Camp Wini MP.69 Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, belum lama ini. Di tengah suasana penuh kesedihan tersebut, ayah kandung korban, Pendeta Anton Wamang menyampaikan klarifikasi sekaligus menarik pernyataan sebelumnya.
Dia sempat menyebut personel TNI sebagai pelaku penembakan terhadap putrinya. Namun, kini ia membuat klarifikasi terbuka yang membantah tudingan TNI terlibat kematian putrinya. Pendeta Anton mengaku, pernyataan yang sempat disampaikan kepada awak media beberapa waktu lalu, keluar dalam kondisi emosional dan penuh tekanan batin akibat kehilangan putri tercintanya.
Dia menyebut, rasa duka yang begitu mendalam membuat dirinya terburu-buru dalam menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas insiden tragis tersebut. “Sebagai seorang ayah, saya sangat terpukul atas meninggalnya anak kami,” ucap Pendeta Anton dalam video diterima Republika di Jakarta, Ahad (17/5/2026).
Dalam keadaan sedih dan emosi, Pendeta Anton mengaku, ada bisikan sesat dari pihak-pihak tertentu kepadanya. “Saya menyampaikan pernyataan yang ternyata belum dapat dipastikan kebenarannya kepada media, beberapa hari lalu,” ujarnya dalam siaran pers Puspen TNI.
Setelah menerima penjelasan mengenai kronologi kejadian serta mengetahui proses penyelidikan masih berlangsung, Pendeta Anton menegaskan, pelaku penembakan anaknya hingga kini belum dapat dipastikan. Dia menyebut, kasus tersebut masih didalami oleh aparat TNI, Polri, serta pihak terkait lainnya, guna mengungkap fakta sebenarnya secara objektif dan transparan.
“Melalui kesempatan hari ini, saya ingin meluruskan bahwa sampai sekarang pelaku penembakan belum dipastikan dan masih dalam proses penyelidikan,” kata Pendeta Anton.
Atas dasar itu, ia menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan sebelumnya. Hal itu sekaligus berharap seluruh pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang berjalan.
“Sehingga saya menarik kembali pernyataan saya di media beberapa hari lalu, dan saya tegaskan TNI tidak terlibat dalam peristiwa kematian puteri tercinta. Saya memohon maaf. Nanti kita akan melakukan penyelidikan bersama-sama,” jelas Pendeta Anton.
Pada akhir keterangannya, Pendeta Anton menegaskan, pihak keluarga tetap menginginkan keadilan bagi mendiang Nalince Wamang. Dia berharap, pelaku penembakan segera ditemukan dan diproses sesuai hukum yang berlaku, tanpa memandang siapa pun pihak yang terlibat.
“Kami keluarga berharap pelaku dapat tertangkap dan diproses seadil-adilnya berdasarkan hukum yang berlaku. Saya juga memohon maaf apabila ada kesalahan dalam tutur kata maupun pernyataan yang saya sampaikan,” ucap Pendeta Anton.
Kapen Koops TNI Habema Letkol M Wirya Arthadiguna menerangkan, klarifikasi tersebut menjadi pengingat bahwa dalam setiap tragedi kemanusiaan di Papua, keadilan dan kebenaran harus tetap dikedepankan di atas emosi maupun asumsi. “Di tengah duka yang menyelimuti keluarga korban, masyarakat diharapkan dapat menjaga situasi tetap kondusif serta memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk bekerja secara profesional, transparan, dan berkeadilan demi terwujudnya kedamaian di tanah Papua,” kata Wirya.