
Jani Hussain mengenang rasa kebingungan saat pertama kali menunaikan ibadah umrah ke Mekkah pada usia 13 tahun.
“Saya ingat melihat ibu saya menangis,” katanya, “tetapi saya tidak mengerti mengapa beliau menangis, dan itu terasa sangat menyedihkan.”
Setiap tahun, jutaan orang pergi ke Arab Saudi untuk ibadah umrah.
Bagi kebanyakan orang, pengalaman tersebut menghadirkan beragam suara: azan bergema di dinding Masjidil Haram, bercampur dengan derap langkah kaki dan gumaman doa ribuan jamaah.
Namun bagi umat Islam yang tidak bisa mendengar, pengalaman itu hampir tanpa suara.

Sambil memegang payung merah sebagai penanda di tengah lautan jemaah, sekelompok penyandang tuli berangkat dari Britania Raya ke Arab Saudi untuk menunaikan umrah.
Mereka didampingi penerjemah bahasa isyarat, Zainam Bostan, dari Al Isharah—sebuah badan amal di UK yang bertujuan memudahkan akses ibadah bagi para penyandang tuli.
Salah satu pesertanya adalah Jani Hussain.
Terlahir tuli, Jani jarang pergi ke masjid saat kecil karena ia “hanya duduk di sana” tanpa bisa mengikuti khotbah atau doa.
Oleh karena itu, saat dirinya masih remaja dan pertama kali beribadah di Mekkah bersama keluarganya, Jani merasa itu adalah “perjalanan yang sia-sia”.
“Saya bahkan tidak tahu apa itu Ka’bah,” ujarnya.
Hubungannya dengan Islam akhirnya berubah ketika, pada usia 25 tahun, ia menemukan layanan ibadah yang dipimpin oleh penyandang tuli dan disampaikan dalam bahasa isyarat.
Ajaran Al-Qur’an dan doa-doa mendadak menjadi jelas. “Semuanya begitu visual,” katanya.
Baca juga:
- Perempuan difabel di Yogyakarta ciptakan masker transparan untuk tunarungu
- Rohani, pelukis ‘luar biasa’ penyandang disabilitas dari Aceh Utara
- Kisah pemuda Indonesia dengan down syndrome yang menguasai tiga bahasa dan gemar memasak
Dua anggota lain dalam rombongan, Riaz Rafiq dan Zahid Nasser, menggambarkan pengalaman serupa.
Saat kanak-kanak, Zahid Nasser dikirim ke sekolah Islam untuk murid-murid yang bisa mendengar. Di sekolah, dia tidak bisa mengucapkan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an.
Adapun Riaz Rafiq mengatakan pemahamannya tentang Islam baru muncul setelah bertemu Muslim tuli lain di perguruan tinggi. Sebelumnya, kata Riaz, “Saya bahkan tidak tahu makanan apa yang boleh atau tidak boleh saya makan.”
Riaz selalu menolak ajakan keluarga untuk menunaikan ibadah haji atau umrah karena ketergantungannya pada bahasa isyarat.
Jadi, ketika ia mengetahui perjalanan ke Mekkah menawarkan penerjemah bahasa isyarat, ia akhirnya mau pergi. Teman-temannya berkata: “‘Pergilah.'”
Perjalanan dimulai
Saat rombongan tiba di Mekah, dampaknya langsung terasa.
Jani Hussain meminum air Zamzam yang suci sebelum mendekati Ka’bah. Ketika dia menengadah, ia menangis.
Zahid Nasser begitu terpukau saat pertama kali melihat Ka’bah.
Dengan bantuan implan koklea, dia dapat merasakan getaran kerumunan di sekelilingnya. Namun saat ia mulai berjalan mengelilingi bangunan suci itu, dia memilih untuk mematikan alat tersebut—diam dalam keheningan untuk memusatkan doa.
Riaz Rafiq mengatakan ia merasakan “hatinya melekat” pada tempat suci tersebut.

Jani memilih bepergian bersama anak-anaknya dan suaminya yang dapat mendengar, Lukman. Dia mengaku setelah delapan tahun fokus pada anak-anaknya, dirinya merasa seolah perlahan terputus dari Allah dan ingin “menyegarkan kembali diri spiritualnya”. Dia juga ingin memperkenalkan anak-anaknya pada bagian penting dari agama Islam.
Proses ibadah di Mekkah terbukti menjadi tantangan bagi mereka.
Tawaf—mengelilingi Ka’bah tujuh kali—sangat menantang secara fisik. Area sekitarnya dirancang untuk menampung lebih dari 100.000 jamaah setiap jam.
Pada putaran keempat, anak-anak Jani mulai menangis dan meminta pulang. Untuk sementara waktu, Jani kehilangan suaminya dan bayi yang digendongnya—dan dia sendiri menangis ketika akhirnya menemukan mereka.
Menemukan komunitas dan persahabatan tak terduga
Akhirnya keluarga itu menyelesaikan Tawaf bersama dan merasa bangga atas pencapaian tersebut.
Namun, Jani kemudian mengatur untuk mengulangi Tawaf “khusus perempuan” bersama para perempuan dari kelompok tuli. Kali ini, suaminya menjaga anak-anak sehingga dia dapat merasakan momen “indah”-nya sendiri.
Lukman, yang pernah menunaikan umrah bersamanya beberapa tahun sebelumnya, terkesan dengan perbedaan pada istrinya. Lukman menyebut istrinya menjalani “versi terbaik dari dirinya” saat beribadah dengan para anggota komunitas tuli.
Riaz dan Zahid juga membentuk persahabatan baru.
Zahid mengingat momen ketika dirinyaa dapat membantu seorang penyandang tuli dari Arab Saudi memahami khotbah salat Jumat dengan menggunakan bahasa isyarat yang berbeda.
“Kami berkomunikasi dan saling membantu. Kami saling mengajarkan bahasa isyarat kami. Fakta bahwa kami semua datang dari berbagai belahan dunia tanpa memandang ras, kulit, warna, usia… rasanya luar biasa,” kata Zahid Nasser.

Kembali di UK, Al Isharah sedang mengerjakan proyek untuk menerjemahkan Al-Qur’an secara lengkap ke dalam Bahasa Isyarat Britania (BSL) dengan bantuan konsultan tuli, teolog, dan penerjemah.
Sejauh ini, sebanyak 64 dari 114 surah telah diterjemahkan. Video-video telah dipublikasikan di kanal YouTube badan amal tersebut.
Semua ini merupakan bagian dari misi kelompok tersebut untuk meruntuhkan hambatan yang menghalangi penyandang tuli mengakses ajaran Islam—sesuatu yang direnungkan Jani, Zahid, dan Riaz setelah kembali ke rumah.
“Untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa dilihat, dipahami, dan disertakan secara spiritual,” kata Zahid.
“Itu mengingatkan saya bahwa identitas tuli saya bukanlah keterbatasan. Itu adalah bagian dari diri saya yang Allah ciptakan untuk saya.”
Bagi Jani Hussain, ibadah di Mekkah kali ini terasa sangat berkesan.
Dia mengaku hatinya seperti “telah menemukan rumah”.
“Tak bisa terlukiskan dengan kata-kata,” tutupnya.
Berdasarkan sebuah episode Heart and Soul, Deaf Umrah, yang dipresentasikan oleh Zainab Bostan di BBC World Service.