Kita Tekno – , JAKARTA — Eropa tengah bergerak dalam senyap, namun dengan arah yang jelas: memperkuat militernya di tengah ketidakpastian global yang kian dalam.
Dari Berlin hingga Brussel, dari wacana integrasi hingga realitas aliansi baru di luar kawasan, satu pertanyaan mengemuka, apakah Eropa sedang bersiap untuk berdiri sendiri sebagai kekuatan militer global?
Jawaban atas pertanyaan itu terserak dalam sejumlah analisis para pakar internasional. Jika dirangkai, terlihat satu gambaran besar: Eropa tidak lagi berada dalam zona nyaman pasca-Perang Dingin.
Ia sedang memasuki fase baru, fase rearmament yang sarat risiko, sekaligus penuh kalkulasi geopolitik.
Berlin
Tulisan pakar militer Linus Holler di Defense News menunjukkan bagaimana Jerman kini mengambil peran sentral dalam transformasi ini. Berlin tidak lagi sekadar kekuatan ekonomi, tetapi secara terbuka menargetkan diri sebagai kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa pada 2039.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyebut fase ini sebagai titik balik strategis. “Jarang sekali strategi militer sepenting pada fase sejarah ini,” ujarnya.
Pernyataan ini bukan retorika biasa, melainkan refleksi dari perubahan mendasar dalam cara Jerman memandang ancaman dan perannya di kawasan.
Strategi baru tersebut bahkan secara eksplisit menempatkan Rusia sebagai ancaman utama, sekaligus memperluas cakupan keamanan Jerman ke dalam pendekatan “satu teater”, yang menghubungkan NATO, Timur Tengah, hingga Indo-Pasifik sebagai satu ruang strategis yang saling terkait.
Artinya, konflik tidak lagi dipandang regional, melainkan global dan terintegrasi.
Ketidakseimbangan Baru
Namun di titik inilah kritik mulai muncul. Ekonom dan sejarawan Adam Tooze dalam tulisannya di Financial Times melihat bahwa peningkatan militer Eropa, khususnya Jerman, justru berisiko menciptakan ketidakseimbangan baru di dalam kawasan itu sendiri.
Ia mencatat, laju pengeluaran militer antarnegara Eropa tidak berjalan seragam. “Jerman dan Polandia mempersenjatai diri secara besar-besaran… sementara Prancis, Italia, dan Spanyol tidak melihat urgensinya atau tidak mampu membiayainya,” tulis Tooze.
Ketimpangan ini berpotensi mengganggu keseimbangan yang selama ini menjadi fondasi integrasi Eropa.
Dalam pandangan Tooze, solusi atas dilema tersebut bukan sekadar peningkatan anggaran nasional, melainkan integrasi militer yang lebih dalam. “Eropa membutuhkan angkatan bersenjata Eropa,” tegasnya.
Pernyataan ini menghidupkan kembali wacana lama tentang tentara Eropa, sebuah ide yang selama puluhan tahun tertahan oleh kepentingan nasional dan bayang-bayang NATO.
Aliansi Baru
Sementara itu, perspektif berbeda datang dari luar Eropa. Marsekal purnawirawan India, Anil Chopra, dalam tulisannya di RT, justru melihat penguatan militer global melalui lensa aliansi baru yang lebih fleksibel dan pragmatis.
Ia menyoroti pakta logistik militer India-Rusia (RELOS) sebagai contoh bagaimana negara-negara kini membangun kemitraan strategis yang melampaui blok tradisional.
“Pakta ini meningkatkan otonomi strategis India… sekaligus mencerminkan pergeseran menuju keseimbangan kekuatan yang lebih kompleks,” ujarnya.
Bagi Chopra, kerja sama semacam ini bukan hanya soal militer, tetapi juga tentang akses geografis, logistik, hingga pengaruh di kawasan strategis seperti Arktik dan Samudra Hindia.
Rusia, yang selama ini tertekan di Eropa, justru memperluas ruang geraknya ke kawasan lain melalui kemitraan semacam ini.
Jika ketiga pandangan ini disatukan, terlihat satu titik temu yang kuat: dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar yang lebih cair, di mana kekuatan militer tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan ekonomi, teknologi, dan jaringan aliansi yang dinamis.
Tank T-90 Rusia menembak. – (EPA-EFE/RUSSIAN DEFENCE MINISTRY)
Eropa, dalam hal ini, berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia terdorong untuk memperkuat dirinya sebagai kekuatan militer mandiri, terutama di tengah ketidakpastian komitmen Amerika Serikat.
Di sisi lain, langkah tersebut berisiko memunculkan ketidakseimbangan internal yang justru melemahkan fondasi integrasinya sendiri.
Sementara itu, aktor-aktor di luar Eropa, seperti India dan Rusia, justru memanfaatkan ruang transisi ini untuk membangun konfigurasi kekuatan baru yang lebih fleksibel dan tidak sepenuhnya terikat pada blok Barat.
Dengan demikian, penguatan militer Eropa bukan sekadar soal pertahanan. Ia adalah bagian dari dinamika yang lebih besar: pergeseran kekuasaan global dari sistem lama yang terpusat menuju dunia yang lebih terfragmentasi, namun juga lebih kompetitif.
Dalam lanskap seperti ini, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah Eropa akan memperkuat militernya. Pertanyaannya adalah: apakah penguatan itu akan membawa stabilitas, atau justru membuka babak baru ketegangan di antara sekutu lama.