Mengapa Taksi Listrik Mogok-Ban Ngunci Saat Lewati Rel Kereta?

Photo of author

By AdminTekno

Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur pada Senin (27/4) menyebabkan 15 penumpang wanita meninggal dunia.

Kecelakaan itu juga disebabkan adanya taksi listrik yang mogok di perlintasan rel kereta. Lalu, bagaimana kendaraan listrik bisa berhenti hingga tak bisa bergerak saat berada di lintasan rel?

Pengamat otomotif sekaligus instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa kondisi mobil listrik (electric vehicle/EV) yang tiba-tiba mogok sebenarnya bukan hal yang umum terjadi.

“Saya gambarkan memang agak sulit buat sebuah EV itu mati tiba-tiba,” ujar Jusri dalam siaran langsung di TikTok kumparan, Rabu (29/4).

Menurut Jusri, sistem pada mobil listrik ditopang oleh dua jenis baterai, yakni baterai utama untuk menggerakkan kendaraan dan baterai kecil 12 volt yang berfungsi untuk sistem indikator.

“Walaupun baterai yang membuat kendaraan ini bergerak, energinya masih ada, tetapi baterai yang 12 volt itu, yang untuk indikator, gauge, petunjuk dan lain-lain ini bisa habis. Dan saat habis, maka dia harus di-jump, harus di-jumper,” tuturnya.

Ia menyebut, ketika baterai kecil tersebut habis, mobil bisa masuk ke save mode yang membuatnya tidak dapat bergerak.

Save mode yang membuat mobil tidak bergerak, terkunci begitu ya. Tapi ini perlu investigasi lebih dalam kasus ini, tapi bisa saja itu,” katanya.

Selain faktor baterai, Jusri juga menyoroti karakteristik teknis kendaraan listrik yang dapat berpengaruh saat melintasi rel kereta yang tidak rata.

Menurutnya, permukaan rel yang bergelombang bisa mengganggu momentum kendaraan, terutama saat melaju pelan.

Traction control akan memerintahkan freewheel, sehingga momentum yang terjadi yang sangat kecil karena pergerakan pelan tadi membuat mobil seakan-akan berhenti,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, kendaraan tidak selalu benar-benar mati, melainkan kehilangan daya gerak akibat sistem keselamatan yang bekerja.

Jusri menambahkan, kondisi darurat seperti munculnya kereta api secara tiba-tiba dapat memicu kepanikan pengemudi, yang justru memperburuk keadaan.

“Kalau panik itu dia nggak bisa me-recall segala referensi yang ada di kepalanya. Dia akan tegang bahkan melakukan sesuatu yang di luar logikanya dia,” kata Jusri.

“Bisa nih, ketika dia panik otomatis ada kemampuan kognitif si pengemudi itu akan hilang, dia panik,” sambungnya.

Ia menjelaskan, dalam kondisi panik, pengemudi bisa kehilangan kemampuan mengambil keputusan secara rasional, sehingga gagal menyelamatkan diri maupun kendaraan.

Masalah lain yang kerap muncul adalah kendaraan listrik yang tidak bisa langsung dipindahkan saat darurat, terutama jika sistemnya terkunci.

“Mobil itu tidak bisa digerakkan karena sistem parkir listriknya akan mengaktifkan roda-roda terkunci,” ungkapnya.

Menurut Jusri, dalam kondisi normal mobil listrik memang bisa digeser atau didorong, namun hal tersebut bergantung pada kondisi sistem dan baterai.

“Mobil EV ini bisa didorong tapi tidak direkomendasi, tapi tidak didorong untuk jarak yang jauh karena itu akan merusak atau menimbulkan induksi pada inverternya mereka,” tutur Jusri.

“kalau baterai yang kecil tadi mati, mati, nah ini akan susah nih untuk menggerakkan mobilnya. Mobil itu tidak bisa digerakkan karena sistem parkir listriknya akan mengaktifkan roda-roda terkunci,” tambahnya.

Ia menyebut, untuk mengatasi kondisi tersebut biasanya diperlukan alat tambahan seperti jumper untuk mengaktifkan kembali sistem kendaraan.

“Ada namanya jumper pack, jumper pack yang men-jumper baterai tersebut gitu. Bukan baterai utama ya, baterai kecil yang 12 volt tadi,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jusri juga membantah anggapan medan magnet di rel kereta api bisa menyebabkan kendaraan mati.

“Kalau dikatakan medan magnetik yang ada di lintasan kereta api itu bisa mematikan mobil, itu hoaks. Itu nggak bener,” tuturnya.

Ia menegaskan, gangguan pada kendaraan lebih disebabkan oleh faktor teknis kendaraan dan kondisi pengoperasian, bukan karena pengaruh elektromagnetik dari rel.

Soroti Human Error

Di sisi lain, Jusri menilai pemahaman pengemudi terhadap kendaraan listrik di Indonesia masih perlu ditingkatkan.

“Masyarakat kita itu ketika menerima barang baru itu malas membaca secara keseluruhan tentang pengoperasian barang tersebut,” katanya.

Ia menilai, banyak pengguna yang menganggap mobil listrik sama dengan kendaraan konvensional, padahal terdapat perbedaan signifikan dalam karakter dan sistemnya.

Menurutnya, pengemudi termasuk pengemudi taksi listrik seharusnya memahami cara kerja kendaraan serta prosedur darurat untuk mengantisipasi kejadian tak terduga di jalan.

Lebih jauh, Jusri menegaskan bahwa kecelakaan yang melibatkan kendaraan listrik tidak semata-mata disebabkan oleh teknologi kendaraan.

“Jangan kita menyalahkan mobil atau jenis EV tapi ini lebih banyak ke human error-nya,” kata Jusri.

“Kontribusi dari kecelakaan ini lebih banyak ke human error-nya,” lanjut dia.

Ia menilai, berbagai faktor seperti kelelahan, tekanan mental, hingga kurangnya kewaspadaan dapat berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan.

Meski demikian, Jusri menekankan bahwa penyebab pasti kecelakaan tetap harus ditelusuri melalui investigasi menyeluruh.

Ia menyebut, analisis tidak cukup hanya melihat kondisi saat kejadian, melainkan juga harus menelusuri faktor-faktor yang melatarbelakanginya.

“Kita harus mundur ke belakang untuk menelaah kenapa kecelakaan ini terjadi karena banyak sekali faktor yang memberikan kontribusi terjadinya accident kemarin,” pungkasnya.

Leave a Comment