
Harga minyak turun tipis di tengah keraguan pelaku pasar akan rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memandu kapal-kapal netral keluar melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent turun 0,4% menjadi US$ 107,79 per barel sementara minyak West Texas Intermediate turun 0,4% menjadi US$ 101,57 per barel.
“Mulai Senin, langkah AS itu dimaksudkan untuk memungkinkan kapal-kapal yang terjebak akibat perang dengan Iran dapat melintasi jalur air tersebut,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Senin (4/5).
Di saat yang bersamaan, ada sebuah kapal yang dilaporkan terkena proyektil pada jarak 78 mil laut di utara Fujairah, Uni Emirat Arab. Meski kapal tersebut tidak diidentifikasi, awak dilaporkan dalam kondisi selamat.
Baca juga:
- UEA Keluar dari OPEC, Rusia Yakin Perang Harga Minyak Tak Akan Terjadi
- Harga Minyak Dekati US$ 120 seiring Meningkatnya Tekanan AS terhadap Iran
- Harga Minyak Stagnan, Pasar Fokus Prospek Perundingan AS-Iran
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk membawa kapal dan awak mereka keluar dengan aman dari Selat,” kata Trump dalam unggahan di media sosial.
Komando Pusat AS sebelumnya menyebut akan memberikan dukungan militer, termasuk kapal perusak berpeluru kendali, pesawat, dan drone. Meskipun Wall Street Journal melaporkan rencana tersebut saat ini tidak mencakup pengawalan oleh Angkatan Laut.
Efek Blokade Ganda, Harga Minyak Melonjak
Harga minyak mentah melonjak sepanjang tahun ini, bahkan mencapai level tertinggi sejak 2022 pada pekan lalu. Hal ini terjadi seiring konflik yang mengguncang pasar, mengancam perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi.
Kenaikan ini didorong oleh blokade ganda di selat penting tersebut, dengan Teheran mencegah kapal keluar dari Teluk Persia dan AS mencegat kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Dalam pernyataannya, Trump membuka kemungkinan penggunaan kekuatan jika Iran berupaya menghalangi pelayaran kapal-kapal tersebut. Ia juga mengatakan perwakilan tengah melakukan pembicaraan yang sangat positif dengan Iran.
Blokade AS dirancang untuk menekan jalur utama ekonomi Iran dengan memaksa penghentian produksi minyak mentah domestik. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada akhir pekan bahwa penutupan sumur dapat dimulai dalam pekan depan karena kapasitas penyimpanan Republik Islam tersebut mulai penuh.
Perang, yang meletus pada akhir Februari terjadi setelah AS dan Israel menyerang Iran. Pemerintah Washington menyebut hal ini sebagai upaya untuk mencegah Teheran menjadi ancaman terkait program nuklirnya. Pada awal Maret, presiden mengatakan AS akan menyediakan pengawalan laut untuk memastikan jalur aman bagi kapal tanker.