Militer AS akan memandu kapal-kapal yang terdampar melalui Selat Hormuz

Photo of author

By AdminTekno

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) akan memulai operasi pengawalan kapal-kapal komersial yang terdampar di perairan Teluk untuk melewati Selat Hormuz mulai Senin, 4 Mei. Kapal-kapal ini telah tertahan sejak Februari lalu, ketika Iran menerapkan blokade jalur perairan strategis tersebut di awal konflik.

Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, menjelaskan bahwa langkah pembebasan kapal-kapal tersebut adalah “isyarat kemanusiaan” dari Washington.

Meski demikian, Komando Pusat AS (Centcom) menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan terus melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade yang telah berlangsung sejak pertengahan April ini bertujuan membatasi kemampuan Teheran dalam memperoleh keuntungan dari ekspor minyaknya.

Trump juga mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa setiap gangguan terhadap proses yang ia namakan “Project Freedom” akan “ditindak dengan tegas”.

Mengapa operasi ini akan dilakukan?

Operasi militer AS ini digambarkan Centcom sebagai pengerahan kekuatan besar, melibatkan 15.000 personel, kapal perusak berpemandu rudal, dan lebih dari 100 unit pesawat udara.

Dalam unggahannya di media sosial, Trump mengklaim bahwa “negara-negara dari seluruh dunia” telah meminta bantuan AS untuk membebaskan kapal-kapal yang ia sebut sebagai “sekadar pihak netral yang tidak bersalah” ini.

Di tengah pengerahan kekuatan militer tersebut, Trump juga mengungkapkan adanya pembicaraan yang “sangat positif” antara perwakilan AS dan Iran. Ia berharap dialog ini “dapat mengarah pada sesuatu yang sangat positif bagi semua pihak”.

Blokade Iran di Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga bahan bakar secara global. Hal ini terjadi karena sebagian besar pasokan minyak dunia terhambat untuk melewati jalur pelayaran vital tersebut.

Sebagai informasi, sekitar 20% dari total minyak dan gas alam cair dunia biasanya transit melalui Selat Hormuz.

Baca juga:

  • Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal
  • Teheran tak akan pernah melepaskan kendali Selat Hormuz, kata politisi senior Iran kepada BBC

Selain dampak ekonomi, krisis ini juga memiliki dimensi kemanusiaan yang mendalam, terutama bagi ribuan pelaut yang terjebak di dalam kapal.

Diperkirakan 20.000 pelaut telah terperangkap di Teluk sejak pecahnya perang dengan Iran. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan fisik dan mental mereka, ditambah lagi dengan menipisnya pasokan logistik.

Pada Minggu, 3 Mei, United Kingdom Maritime Transportation Operation (UKMTO) melaporkan insiden terbaru di selat tersebut, di mana sebuah kapal tanker terkena “proyektil yang tidak diketahui”. Untungnya, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Bagaimana reaksi Iran?

Tindakan AS ini berlangsung di tengah masa gencatan senjata sementara antara kedua negara yang dimulai pada 8 April, sembari mereka berupaya menyepakati rencana perdamaian permanen.

Ebrahim Azizi, seorang anggota parlemen senior Iran dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menyatakan di media sosial bahwa “setiap campur tangan Amerika” akan “dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata”.

Sebelumnya, Iran juga telah menuduh AS melanggar gencatan senjata karena menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Mohammad Bagher Ghalibaf, juru runding utama Iran, pada akhir April bahkan menyebut blokade tersebut sama dengan menyandera perekonomian global.

Apa isi 14 butir rencana perdamaian yang diajukan Iran?

Pengumuman Trump mengenai operasi pengawalan kapal muncul setelah media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menerima tanggapan AS terkait proposal perdamaian 14 butir yang mereka ajukan.

Media pemerintah Iran merinci bahwa rencana perdamaian tersebut mencakup beberapa tuntutan utama: Washington harus menarik pasukannya dari dekat perbatasan Iran, mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta menghentikan semua permusuhan, termasuk ofensif Israel di Lebanon.

Proposal tersebut juga mengusulkan agar kesepakatan final antara kedua negara dapat dicapai dalam kurun waktu 30 hari.

Baca juga:

  • Trump perpanjang gencatan senjata tapi tidak cabut blokade Selat Hormuz
  • Trump peringatkan Iran soal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz – ‘Itu bukan kesepakatan kita’
  • Kapal tanker Malaysia melintasi Selat Hormuz – ‘Iran tidak melupakan teman’

Media pemerintah Iran lebih lanjut menambahkan bahwa esensi dari proposal ini adalah mendesak kedua pihak bertikai untuk “mengakhiri perang” secara menyeluruh, bukan sekadar memperpanjang gencatan senjata yang ada.

Mengenai isu nuklir, juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa “pada tahap ini, kami tidak memiliki perundingan nuklir,” yang merupakan tuntutan utama dari Washington.

Iran sendiri berulang kali membantah ambisi untuk mengembangkan bom nuklir, menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, meskipun negara itu telah memperkaya uranium hingga taraf yang cukup untuk membuat senjata.

Apa tanggapan Trump atas proposal Iran?

Pada Sabtu, 2 Mei, Presiden Trump mengonfirmasi bahwa Washington telah menerima proposal perdamaian terbaru dari Iran.

Dalam unggahan di Truth Social, ia menyatakan akan meninjau rencana tersebut. Namun, Trump mengungkapkan keraguan besar dengan menulis, “sulit membayangkan bahwa hal itu dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap Kemanusiaan, dan Dunia, selama 47 tahun terakhir”.

Trump menambahkan bahwa ia telah diberi tahu “tentang konsep kesepakatan tersebut” dan kini tengah menanti “redaksi persisnya”.

Ketika ditanya oleh BBC mengenai kemungkinan dimulainya kembali serangan militer di wilayah Iran, Trump tidak menampik hal itu, mengatakan bahwa itu “merupakan kemungkinan”.

“Jika mereka berperilaku buruk. Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk,” tegasnya. “Namun untuk saat ini kita akan lihat.”

Presiden AS itu juga mengindikasikan keengganannya untuk menarik diri sepenuhnya dari konflik, menegaskan, “kita tidak akan pergi” dan “kita akan melakukannya, sehingga tidak ada yang harus kembali lagi dalam dua tahun atau lima tahun”.

  • Mengapa Selat Malaka menjadi perhatian dunia setelah AS ajukan proposal akses militer melintasi wilayah udara Indonesia?
  • Iran dan AS gagal capai kesepakatan – Lima hal yang menjadi ganjalan dalam negosiasi
  • Apa yang akan terjadi saat ini setelah perundingan perdamaian Iran-AS gagal capai kesepakatan?

Leave a Comment