AS gempur fasilitas militer Iran setelah serangan terhadap kapal perang

Photo of author

By AdminTekno

Militer Amerika Serikat menggempur berbagai fasilitas militer Iran, pada Kamis (07/05). AS mengklaim gempuran itu dilakukan setelah Iran berupaya menyerang tiga kapal perusak milik AS di perairan Teluk.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dalam sebuah unggahan di Truth Social, bahwa “kerusakan besar” telah menimpa Iran dan bahwa banyak kapal kecil hancur total.

“Kapal-kapal ini tenggelam ke dasar laut, dengan cepat dan efisien. Rudal ditembakkan ke kapal perusak kami, dan dengan mudah dijatuhkan. Demikian pula drone datang dan dibakar habis di udara,” tulisnya.

“Mereka jatuh begitu indah ke lautan, sangat mirip dengan seekor kupu-kupu yang jatuh ke kuburnya! Negara normal akan membiarkan kapal perusak ini lewat, tetapi Iran bukanlah negara normal. Mereka dipimpin oleh ORANG GILA,” tambahnya.

Apa yang terjadi?

Komando Pusat AS (Centcom) mengklaim Iran melakukan serangan ketika kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut AS melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman, 7 Mei.

“Pasukan Iran meluncurkan beberapa rudal, drone, dan kapal kecil ketika USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) melintasi jalur laut internasional. Tidak ada aset AS yang terkena serangan,” sebut Centcom.

“Komando Pusat AS (CENTCOM) menyingkirkan ancaman yang datang dan menargetkan fasilitas militer Iran yang bertanggung jawab menyerang pasukan AS, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone; lokasi komando dan kendali; serta simpul intelijen, pengawasan, dan pengintaian,” lanjut pernyataan tersebut.

Di sisi lain, Koprs Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa tentara AS bertindak melawan sebuah kapal tanker minyak Iran di dekat pelabuhan Jask.

Angkatan Laut Iran menanggapi dengan “hulu ledak peledak intens” dan “pengawasan intelijen menunjukkan kerusakan signifikan pada musuh Amerika, dan tiga kapal musuh yang menyerang segera melarikan diri dari kawasan Selat Hormuz,” tulis IRGC di X.

IRGC juga mengklaim kapal lain yang memasuki selat di seberang pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, juga menjadi sasaran.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa “beberapa ledakan” terdengar di dekat Kota Bandar Abbas.

Disebutkan bahwa “asal dan lokasi pasti” suara tersebut masih “belum diketahui”.

Fars menambahkan bahwa hasil investigasinya menunjukkan adanya “baku tembak” antara Angkatan Bersenjata Iran dan “musuh”. Bagian komersial dari sebuah dermaga di Qeshm—pulau terbesar di Teluk—menjadi “sasaran”.

Sementara itu, kantor berita Tasnim mengatakan “beberapa ledakan” terdengar di dekat Pulau Qeshm dan Bandar Abbas.

Tasnim juga menyebutkan bahwa masih “belum ada informasi pasti”, tetapi menambahkan bahwa “beberapa sumber” mengatakan suara tersebut terkait dengan operasi Angkatan Laut IRGC “untuk memperingatkan sejumlah kapal tentang pelayaran tidak sah melalui Selat Hormuz”.

Bagaimana nasib gencatan senjata?

Presiden Donald Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa AS sedang “bernegosiasi dengan pihak Iran”.

Dia menegaskan gencatan senjata masih berlaku, meski AS dan Iran saling melepaskan tembakan.

“Pembicaraan berjalan sangat baik, tetapi mereka harus mengerti jika kesepakatan tidak ditandatangani, mereka akan merasakan banyak penderitaan,” ujar Trump.

“Saya percaya mereka menginginkan kesepakatan itu lebih daripada saya,” katanya tentang Iran.

Meski demikian, menurut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), AS telah melanggar gencatan senjata.

Trump menegaskan kembali sikapnya mengenai kemampuan nuklir Iran, dengan mengatakan bahwa jika Teheran memiliki kesempatan menggunakan senjata nuklir “mereka akan melakukannya, tanpa keraguan”.

“[M]ereka tidak akan pernah mendapat kesempatan itu dan, sama seperti kami berhasil menjatuhkan mereka lagi hari ini, kami akan menjatuhkan mereka jauh lebih keras, dan jauh lebih kejam, di masa depan, jika mereka tidak menandatangani Kesepakatan mereka, SEGERA!”

Apakah ini insiden pertama sejak gencatan senjata 7 April?

Ini bukan insiden serangan pertama antara AS dan Iran sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada 7 April.

Pada Senin (04/05), Trump mengatakan AS telah menyerang tujuh kapal cepat Iran di Selat Hormuz.

Serangan itu dilakukan dalam rangka ‘Project Freedom’, yaitu upaya Washington memandu kapal-kapal keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz.

Kemudian, pada 24 April, pasukan Amerika Serikat menyergap kapal yang tengah dikenai sanksi dan membawa minyak Iran di Samudra Hindia.

  • Militer AS serang tujuh kapal cepat Iran dalam rangka ‘Project Freedom’ di Selat Hormuz
  • Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal
  • Teheran tak akan pernah melepaskan kendali Selat Hormuz, kata politisi senior Iran kepada BBC
  • Militer AS menyergap kapal pengangkut minyak Iran di Samudra Hindia – Trump perintahkan AL tembak kapal Iran
  • ‘Diawali dari bengkel kecil pada 1980-an’ – Bagaimana Iran mengembangkan persenjataan drone?
  • Trump perpanjang gencatan senjata tapi tidak cabut blokade Selat Hormuz
  • Militer AS menyergap kapal pengangkut minyak Iran di Samudra Hindia – Trump perintahkan AL tembak kapal Iran
  • Warga Iran lelah dengan ekonomi memburuk dan bayang-bayang perang – ‘Orang harus bayar tiga kali lipat demi sepotong roti’
  • Iran dan AS gagal capai kesepakatan – Lima hal yang menjadi ganjalan dalam negosiasi

Leave a Comment