
Meski jumlah petugas imigrasi di Minnesota sudah dikurangi sejak beberapa bulan lalu, rasa takut masih menyelimuti sebagian warga di negara bagian Amerika Serikat itu.
Operasi penegakan hukum berujung pada tewasnya dua warga negara AS, telah memicu protes nasional dan mengguncang sebagian warga—terutama di kalangan komunitas Somalia di Kota Minneapolis yang merupakan komunitas Somalia terbesar di luar Afrika.
Abdi, seorang pria berusia 23 tahun dari Somalia yang namanya diubah untuk melindungi identitasnya, adalah salah satu dari diaspora Somalia yang hidup dalam ketakutan. Dia begitu takut terhadap petugas imigrasi bersenjata berat dan bermasker yang masih berpatroli di kota itu.
“Ini belum berakhir,” kata Abdi kepada BBC.
Dia mengaku jarang tinggal di satu tempat lebih dari lima malam. Pergi bekerja pun dilakukannya secara diam-diam.
Abdi punya alasan kuat untuk takut. Beberapa temannya baru‑baru ini ditahan meskipun, seperti dirinya, mereka mengantongi dokumen Status Perlindungan Sementara (Temporary Protected Status/TPS).
Dokumen itu seharusnya memungkinkan orang dari negara yang terdampak konflik, bencana, atau kondisi luar biasa untuk tinggal dan bekerja secara legal di AS untuk jangka waktu terbatas.
Pemerintahan Presiden Donald Trump telah berupaya mengakhiri TPS bagi imigran Somalia pada 17 Maret, dengan alasan bahwa keamanan telah membaik di negara Afrika tersebut. Upaya ini diperkirakan akan memengaruhi sekitar 2.500 orang asal Somalia pemegang TPS di AS.
Seorang hakim federal telah memblokir upaya aparat untuk mendeportasi mereka. Namun, pemblokiran itu hanya berlaku sementara.
Sebelum mencapai tenggat, 3.000 agen ICE dikerahkan di Minnesota dan menangkap sejumlah orang, beberapa di antaranya telah dideportasi.
Operasi tersebut, bersama dengan sejumlah komentar merendahkan yang disampaikan Trump tentang komunitas Somalia, membuat mereka merasa menjadi sasaran.
Menurut Biro Sensus AS, terdapat sekitar 260.000 orang berdarah Somalia di AS, lebih dari separuhnya lahir di negara itu, sementara banyak lainnya telah dinaturalisasi. Angka ini jauh melampaui jumlah orang-orang Somalia yang berada di negara itu secara ilegal, menurut para pemimpin komunitas Somalia.
Banyak yang tiba di AS setelah runtuhnya pemerintahan terakhir yang menguasai seluruh Somalia pada 1991. Negara itu sejak lama mengalami kekeringan kronis dan sedikit kedamaian. Selama dua dekade terakhir, Somalia berjuang melawan milisi, khususnya al‑Shabab, kelompok yang bersekutu dengan al‑Qaeda.

Abdi meninggalkan Somalia pada 2022. Dia mengaku melarikan diri setelah para anggota milisi al‑Shabab mencoba merekrutnya.
“Saya menghabiskan sekitar US$15.000 untuk sampai ke sini. Keluarga saya memberikan segalanya,” katanya, berbicara pelan dari lorong apartemen yang remang‑remang.
Dia mengaku membeli paspor Kenya dari penyelundup dan terbang ke Brasil, lalu memulai perjalanan panjangnya menuju AS melintasi Celah Darién, hamparan hutan di antara Kolombia dan Panama—rute yang secara luas dianggap sebagai salah satu jalur migrasi paling berbahaya di dunia.
“Pada suatu titik saya menginjak mayat,” katanya.
Setelah mencapai perbatasan AS‑Meksiko, ia menyeberang ke AS dan mengajukan suaka. Atas nasihat hukum, ia juga mengajukan TPS, yang memungkinkannya tinggal dan bekerja di negara itu hingga 2029.
Baca juga:
- ‘Jangan tembak, saya Muslim’ – Kisah kapten kapal dari Indonesia yang disandera bajak laut Somalia
- Perompak Somalia bangkit lagi, empat WNI jadi sandera – ‘Laut adalah bisnis kami’
Mereka yang ditahan dalam penggerebekan ICE juga mencakup sejumlah warga negara ganda AS‑Somalia, namun mereka terlalu takut untuk diwawancarai. Keluarga lain yang terpecah akibat deportasi ke Somalia juga enggan berbicara—sering kali terlalu trauma.
Jika dideportasi, seseorang menghadapi larangan kembali ke AS selama 10 tahun, terkadang lebih lama, yang memutus mereka dari kehidupan di negara itu, termasuk anak‑anak yang mungkin mereka tinggalkan.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengatakan Operasi Metro Surge di Minnesota merupakan kemenangan bagi keselamatan publik.
“Kami telah menangkap lebih dari 11.000 imigran ilegal kriminal yang membunuh warga Amerika, menyakiti anak‑anak, dan menebar teror di Minneapolis karena para politisi kota suaka menolak melindungi rakyatnya sendiri dan justru melindungi penjahat,” kata lembaga itu kepada BBC dalam sebuah pernyataan.
Sikap keras terhadap imigrasi merupakan pilar utama kampanye pemilihan kembali Trump. Sikap itu tetap menjadi kebijakan terkuatnya dalam jajak pendapat, meskipun yang tidak menyetujui masih lebih banyak daripada yang menyetujui, menurut survei Ipsos terbaru.
Dalam benak Abdi, situasinya tetap merupakan krisis eksistensial: “Saya lebih memilih hidup bersembunyi di sini seumur hidup daripada kembali ke Somalia, karena hidup saya akan terancam.”

Bagi Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, ketakutan semacam itu menunjukkan adanya kontradiksi dalam kebijakan AS.
“Pemerintah federal mengatakan tidak ada kebutuhan Status Perlindungan Sementara di Amerika Serikat, sementara pada saat yang sama memperingatkan orang‑orang agar tidak bepergian ke Somalia karena berbahaya,” katanya kepada BBC. “Yang mana yang benar?”
Berjalan melewati beberapa bagian Minneapolis yang dihuni sejumlah komunitas migran, dampak penggerebekan masih terlihat. Meski kehidupan sehari‑hari perlahan mulai kembali normal dan sekolah‑sekolah telah dibuka kembali. beberapa toko dan restoran tetap tutup pada waktu yang biasanya ramai.
Di area parkir di luar sebuah restoran China, saya bertemu seorang pengemudi derek yang sedang memindahkan mobil.
“Saya dengar pemilik dan staf restoran ini ditahan oleh ICE, dan itu sebabnya tempat ini ditutup,” katanya.
Menurutnya, beberapa kendaraan telah terparkir selama berhari‑hari karena pemiliknya terlalu takut untuk kembali.
Baca juga:
- Imigran di AS diburu petugas ICE bahkan saat mereka membuang sampah
- Siapakah Renee Nicole Good, perempuan yang dibunuh petugas imigrasi AS?
- Siapa Alex Pretti, perawat ICU yang ditembak mati petugas imigrasi di Minneapolis?
“Kita sedang menjalani masa‑masa gelap,” kata anggota Kongres Minnesota, Ilhan Omar, baru‑baru ini kepada sebuah konvensi Partai Demokrat di Minneapolis.
Setelah itu, perempuan Somalia‑Amerika pertama yang menjadi anggota Kongres AS itu berbicara kepada BBC tentang betapa merusaknya dampak razia imigrasi beberapa bulan terakhir—terutama pada anak‑anak.
“Masih ada ketakutan bahwa mereka akan dihentikan, bahwa orang tua mereka bisa dihentikan. Bahkan pusat layanan kesehatan kami terdampak.”
Ilhan merupakan pengkritik Trump. Dia mempertanyakan skala operasi dan taktik yang digunakan ICE.
“Perbedaan antara apa yang sebelumnya kita lihat di bawah pemerintahan lain, termasuk pemerintahan [Barack] Obama yang memiliki salah satu tingkat pengusiran tertinggi, adalah bahwa proses itu… dilakukan tanpa menciptakan kekacauan [dan] ketakutan.
“Cara Operasi Metro Surge dijalankan adalah dengan kehadiran pria‑pria di jalan yang bermasker, yang tidak dapat diidentifikasi, dalam jumlah besar dengan senjata kelas militer diarahkan ke orang‑orang. Apa yang kami lihat di sini tampak seperti zona perang.”
DHS menegaskan mereka yang berada di AS secara legal tidak perlu takut dan bahwa agen ICE mengenakan masker untuk “melindungi diri dari pembocoran data (doxxing) oleh simpatisan teroris”. Doxxing adalah ketika informasi pribadi diunggah secara daring untuk tujuan jahat. Menurut DHS, serangan terhadap petugas ICE telah melonjak.
Ketegangan juga diperparah oleh komentar Trump tentang orang Somalia, uang menyebut mereka “sampah”.
“Saya tidak menginginkan mereka di negara kami, jujur saja… negara mereka tidak baik‑baik saja karena suatu alasan,” kata Trump kepada para wartawan.
Presiden AS itu berulang kali menyoroti sebuah skandal yang telah berlangsung lama yang memengaruhi komunitas Somalia di Minnesota. Puluhan orang telah didakwa terkait sebuah badan amal yang menagih pemerintah Minnesota secara curang untuk makanan anak‑anak selama pandemi Covid‑19.
Gubernur Tim Walz mengumumkan bahwa ia menghentikan upaya pemilihan kembali setelah kritik terhadap cara ia menangani isu tersebut. Penyelidikan atas dugaan penipuan itu meningkat pekan lalu dengan penggerebekan di lebih dari belasan pusat penitipan anak.
Namun Omar mengatakan penegakan imigrasi tidak seharusnya dikaitkan dengan kasus pidana terpisah.
“Mayoritas orang yang didakwa adalah warga negara AS,” tambahnya.

Jim Abeler, anggota Senat Minnesota dari Partai Republik, juga mengkritik taktik ICE—namun ia merasa hal itu menunjukkan kegagalan kebijakan pemerintah yang lebih dalam dan perlu diperbaiki.
“Saya tidak berpikir ini isu partai. Kebijakan imigrasi nasional kita berantakan—ini telah menjadi kegagalan bipartisan selama satu dekade,” katanya kepada BBC.
Hinaaan Trump telah menggerus dukungan Partai Republik di kalangan warga Somalia di Minnesota. Padahal sebelumnya Trump memiliki sejumlah pendukung di komunitas yang konservatif secara sosial menjelang masa jabatan keduanya.
“Saya memilih Trump—dan menyesal melakukan itu,” kata Foos Abe dari Minneapolis kepada saya. “Jika saya tidak memilihnya, dia tidak akan bisa menyebut kami ‘sampah’,” katanya.
Baca juga:
- Petugas imigrasi AS tembak mati seorang perempuan di jalan raya, demo dan kecaman bermunculan – Apa yang diketahui sejauh ini?
- AS cabut lebih dari 6.000 visa pelajar asing – Sebagian dituduh ‘dukung terorisme dan ikut demo Palestina’
Satu hal yang dilakukan Operasi Metro Surge adalah mempertemukan orang‑orang dengan cara yang tak terduga, seperti pertemuan Imam Somalia‑Amerika Sharif Muhammad dan Jane Buckley Farley, seorang pendeta di Evangelical Lutheran Church in America.
Saya bertemu mereka di sebuah masjid di Minneapolis. Sang imam menyebut krisis ini telah memperkuat ikatan lintas kelompok agama: “Penggerebekan ICE menciptakan kedekatan yang lebih besar serta persaudaraan dan kebersamaan.”
Sang pendeta sepakat: “Ketika lonjakan itu terjadi, orang‑orang berkumpul, bertanya di mana bantuan dibutuhkan dan bagaimana kami bisa merespons.”
Bersama‑sama mereka membentuk sistem peringatan informal untuk memperingatkan warga ketika petugas imigrasi berada di sekitar—sebuah respons akar rumput terhadap iklim ketakutan.

Di antara para relawan ini terdapat Renee Good dan Alex Pretti, dua warga negara AS yang tewas ditembak agen imigrasi federal saat operasi imigrasi berlangsung pada bulan Januari.
Di luar masjid saya bertemu Lisa dan suaminya, pasangan kulit putih pensiunan. Keduanya adalah relawan. Seraya meminta agar nama lengkapnya tidak diungkapkan, Lisa menjelaskan bagaimana warga tetap waspada dan menggunakan peluit untuk memperingatkan orang lain jika petugas imigrasi terlihat di dekat mereka.
“Sekarang lebih senyap, tapi mereka lebih licik. Mereka berbaur, jadi lebih sulit dikenali,” katanya.
Bagi Abdi, jaringan relawan ini menawarkan sedikit ketenangan—meski ia mengakui merasa putus asa.
“Kami berharap akan masa depan di Amerika. Impian kami telah hancur,” katanya.