
Nilai tukar rupiah sempat melemah terhadap dolar AS. Meski demikian, penguatan rupiah kembali terjadi pada Rabu (13/5) sore ke level Rp 17.475 per USD.
Dikutip dari Bloomberg, angka tersebut menguat 0,30 persen atau 53 poin dibanding posisi sebelumnya. Adapun sebelumnya di pagi hari pukul 9.21 WIB rupiah sempat melemah 9,5 poin atau 0,05 persen ke Rp 17.538 per dolar AS.
Terkait pelemahan sebelumnya, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan beberapa faktor penyebab pelemahan rupiah, utamanya diakibatkan aksi jual saham oleh investor asing jelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Myrdal menjelaskan, faktor kedua terkait tensi perang antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang belum mereda, bahkan terus meningkat yang mengakibatkan penguatan dolar AS. Lalu, para investor asing juga mengantisipasi libur panjang Kenaikan Yesus Kristus pada pekan ini.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Menurut dia, eskalasi konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global.
“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry.
Di tengah tekanan tersebut, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah yang ditempuh antara lain melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).