Indonesia gabung ‘Dewan Perdamaian’ bentukan Trump – Apa yang diketahui sejauh ini?

Photo of author

By AdminTekno

Indonesia bersama dengan sejumlah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam sepakat bergabung dengan “Dewan Perdamaian” bentukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Lembaga yang diklaim akan mengurus Gaza ini memicu kekhawatiran sekaligus beragam pertanyaan tentang peta politik internasional.

Salah satu informasi terkait “Dewan Perdamaian” yang memicu kritik adalah susunan anggota dewan eksekutifnya yang tidak memasukkan warga Palestina, tapi justru melibatkan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris yang mendukung invasi Irak pada 2003.

Informasi lain yang melahirkan pertanyaan adalah terkait biaya yang harus dibayar anggota permanennya, sebesar US$1 miliar (Rp16,9 triliun).

Selain itu, bagaimana lembaga ini akan mengambil alih peran PBB juga urung terjawab.

Apa alasan Indonesia bergabung “Dewan Perdamaian” yang digagas Trump?

Dalam pernyataan bersama yang diunggah Kementerian Luar Negeri Indonesia di X, menyebutkan menteri luar negeri Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab akan ikut dalam Dewan Perdamaian Trump.

“Setiap negara akan menandatangani dokumen keanggotaan sesuai dengan prosedur hukum dan prosedur lain yang diperlukan masing-masing,” tulis pernyataan bersama yang diunggah akun Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kamis (22/01).

Negara-negara ini menegaskan kembali dukungan mereka terhadap “upaya perdamaian” yang dipimpin Trump, terkait gencatan senjata permanen dan rekonstruksi Gaza, serta mendorong perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan kedaulatan negara sesuai dengan hukum internasional.

“Sehingga ini membuka jalan bagi keamanan dan stabilitas bagi semua negara dan rakyat di kawasan tersebut,” begitu pernyataan mereka.

Siapa saja yang diundang bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump?

Puluhan pemimpin dunia telah menerima surat undangan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump, menurut sejumlah laporan. Selain Indonesia, undangan itu diterima oleh:

  • Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese
  • Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva
  • Presiden Siprus, Nikos Christodoulides
  • Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi
  • Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen
  • Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis
  • Perdana Menteri India, Narendra Modi
  • Perdana Menteri Yordania, Jafar Hassan
  • Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari
  • Presiden Polandia, Karol Nawrocki
  • Presiden Rusia, Vladimir Putin
  • Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan
  • Perdana Menteri Kerajaan Bersatu (UK), Sir Keir Starmer

Beberapa negara yang masih mempertimbangkan adalah Rusia, Selandia Baru, Thailand, Inggris, dan Vatikan.

Siapa yang setuju bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump?

Mereka yang secara terbuka telah setuju bergabung, termasuk:

  • Perdana Menteri Albania, Edi Rama
  • Presiden Argentina, Javier Milei
  • Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán
  • Presiden Kazakhstan,Kassym-Jomart Tokayev
  • Presiden Paraguay, Santiago Peña
  • Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev

Dan, seperti dikutip dari pernyataan bersama di akun X Kemenlu Indonesia, Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab akan bergabung.

Bahrain, Armenia, Azerbaijan, Belarus, Hungaria, Maroko, dan Vietnam telah mendaftar.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney ikut serta, tetapi tidak akan membayar untuk menjadi anggota.

Namun, Perdana Menteri Slovenia, Robert Golob, menolak undangan tersebut karena badan itu “secara berbahaya mengganggu tatanan internasional yang lebih luas”.

Apa syarat bergabung dengan “Dewan Perdamaian”?

Piagam Dewan Perdamaian akan mulai berlaku setelah tiga negara secara resmi setuju terikat di dalamnya.

Seorang pejabat AS berkata pada CBS News, tak ada persyaratan bergabung. Akan tetapi, bagi mereka yang ingin menjadi anggota permanen wajib membayar biaya US$1 miliar (sekitar Rp16,9 triliun) atau hanya berhak memperoleh keanggotaan selama tiga tahun.

Iuran anggota itu disebut akan digunakan mendanai rekonstruksi Gaza, menurut para pejabat.

Namun, dewan ini rupanya akan diperluas untuk menangani konflik lain, menurut salinan surat dan draf piagam yang dilihat kantor berita Reuters. Bahkan, dewan ini akan dipimpin Trump seumur hidup, meski ia tidak lagi menjadi Presiden AS.

Apakah Dewan Perdamaian Trump berpotensi melemahkan PBB?

Dalam suratnya, Trump mengungkapkan dewan tersebut akan “mengambil pendekatan baru yang berani dalam menyelesaikan konflik global”.

Hal ini kemudian dinilai berpotensi mengancam posisi dan fungsi Dewan Keamanan PBB, yang saat ini bertanggung jawab atas perdamaian, pemeliharaan perdamaian, dan sanksi internasional.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, piagam tersebut dibuka dengan menekankan kebutuhan adanya “badan perdamaian internasional yang lebih lincah dan efektif”.

Lanjutannya, tertulis perdamaian yang berkelanjutan memerlukan “keberanian untuk meninggalkan… lembaga-lembaga yang terlalu sering gagal”.

Dalam pernyataannya tentang Dewan Perdamaian, Gedung Putih mengatakan: “Tonggak sejarah ini sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.”

Namun, sumber yang dekat dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron berkata kepada kantor berita AFP, piagam tersebut “melampaui kerangka kerja Gaza”.

Sumber itu pun menambahkan: “Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, terutama terkait penghormatan terhadap prinsip dan struktur PBB, yang dalam keadaan apa pun tidak boleh dipertanyakan.”

Sementara itu, Khaled Elgindy dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menyampaikan kepada Reuters:

“Rasanya pemerintahan mereka (pemerintahan Trump) ingin memperluas jangkauan Dewan Perdamaian dan bahkan berencana mengganti sistem PBB saat ini,” kata Elgindy.

“Jadi, jelas bahwa Gaza mungkin menjadi awal, bukan akhir dari Dewan tersebut menurut pemerintahan Trump,” ujarnya.

Sejauh ini, tindakan pemerintahan Trump terkait PBB adalah telah memotong dana AS untuk PBB.

AS juga berulang kali mengeluarkan veto yang menghalangi Dewan Keamanan untuk mengambil tindakan agar mengakhiri genosida di Gaza.

Teranyar, pada 7 Januari 2026, Trump menandatangani memo, menarik AS dari 31 entitas PBB yang “beroperasi bertentangan dengan kepentingan nasional AS”.

Ini termasuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Dana Demokrasi PBB.

Bagaimana Dewan Perdamaian Trump akan bekerja?

Di dalam susunan Dewan Perdamaian, terdapat dua dewan eksekutif, yakni:

  • “Dewan Eksekutif Pendiri”, dengan fokus pada investasi dan diplomasi
  • “Dewan Eksekutif Gaza”, yang bertanggung jawab mengawasi semua kegiatan di lapangan dari Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, sebuah komite teknokrat yang bertugas mengelola pemerintahan sementara dan rekonstruksi Gaza

Gedung Putih menyatakan mereka yang terpilih untuk duduk di dewan-dewan ini akan bekerja memastikan “pemerintahan yang efektif dan penyediaan layanan terbaik yang mendukung perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bagi rakyat Gaza”.

Trump akan memimpin Dewan Eksekutif Pendiri yang beranggotakan tujuh orang, yang akan mengarahkan Gaza melalui fase rekonstruksi berikutnya, menurut Gedung Putih. Anggota lainnya termasuk:

  • Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio
  • Utusan Khusus untuk Timur Tengah dari AS, Steve Witkoff,
  • Menantu Trump, Jared Kushner

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, juga menjadi anggota dewan ini. Masuknya Blair cukup kontroversial karena pada 2003 ia membawa Inggris terlibat dalam Perang Irak berdasarkan klaim Irak memiliki senjata pemusnah massal, yang kemudian terbukti palsu.

Setiap anggota akan memiliki portofolio masing-masing yang “penting bagi stabilisasi Gaza”, kata Gedung Putih.

Apakah Palestina dan Israel masuk di Dewan Perdamaian Trump?

Hingga kini, tidak terpantau ada warga Palestina berada di kedua dewan eksekutif tersebut.

Sementara itu, ada satu warga Israel dilibatkan di Dewan Eksekutif Gaza, yaitu miliarder properti Yakir Gabay, yang lahir di Israel tetapi kini berdomisili di Siprus.

Anggota lain dalam dewan ini dikabarkan juga mencakup politisi senior dari negara-negara seperti Qatar dan Turki yang telah mengkritik cara Israel menjalankan genosida di Jalur Gaza.

Palestina mengharapkan “perwakilan yang jauh lebih luas,” kata politisi Mustafa Barghouti kepada program Weekend BBC News World Service.

“Sepertinya ini hanya dewan Amerika, dengan beberapa unsur internasional,” katanya.

Fakta bahwa peran kelompok administratif Palestina yang disetujui selama perundingan damai di Kairo dinilai “tidak jelas” dan ini berpotensi akan “menyulitkan,” kata Barghouti.

Dia juga meragukan kesediaan Israel membuka perbatasan Rafah untuk memfasilitasi rekonstruksi Gaza.

Sementara itu, Israel menyebut mereka tidak dilibatkan dalam pembicaraan tentang komposisi dewan eksekutif.

Hal ini “tidak dikoordinasikan dengan Israel dan bertentangan dengan kebijakannya,” begitu keterangan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menyebut pengumuman tersebut sebagai “kegagalan diplomatik bagi Israel”.

Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, menulis di X: “Sektor Gaza tidak membutuhkan ‘komite administratif’ untuk mengawasi ‘rekonstruksinya’ karena yang dibutuhkan adalah membersihkannya dari teroris Hamas.”

Apa saja langkah “Dewan Perdamaian” Trump?

Fase pertama rencana perdamaian: Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata, pertukaran sandera Israel yang masih hidup dan yang telah meninggal di Gaza dengan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, penarikan sebagian pasukan Israel, dan peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah Israel bersikeras, mereka hanya dapat melanjutkan ke fase kedua setelah Hamas menyerahkan jenazah sandera terakhir yang tewas.

Lainnya, Hamas menolak menyerahkan senjatanya tanpa pembentukan negara Palestina merdeka, dan Israel belum berkomitmen untuk sepenuhnya menarik diri dari Gaza.

Gencatan senjata yang saat ini berlangsung juga rapuh. Lebih dari 460 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut kementerian kesehatan di Gaza, sementara militer Israel mengatakan tiga tentaranya tewas dalam serangan Palestina selama periode yang sama.

Saat ini sekitar 80% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak dan menghasilkan 60 juta ton puing-puing, menurut perkiraan PBB. Keluarga yang terpaksa mengungsi juga menghadapi cuaca dingin, tempat tinggal yang terbatas, dan kekurangan makanan.

Kelompok bantuan mengatakan ada perbaikan, tapi Israel terus memberlakukan pembatasan terhadap pekerjaan mereka.

Karena itu, pertanyaannya apakah Dewan Perdamaian Trump sungguh berniat mendorong perubahan dan mengambil langkah-langkah konkret menuju perdamaian yang berkelanjutan secara cepat? Hal ini masih harus dilihat ke depannya.

  • Presiden Trump ajukan rencana perdamaian di Gaza – Apa saja butir-butir lengkapnya?
  • Isi percakapan Prabowo dan Trump di KTT Gaza yang terekam dan tersebar – Apa respons Menlu Sugiono?
  • Mengapa Trump ingin mengambil alih Gaza dan dapatkah dia melakukannya?

Leave a Comment