Kita Tekno – , TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sabtu (28/2/2026), mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran” menyusul konfirmasi syahidnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat.
Kantor berita Iran Tasnim menyebutkan bahwa Khamenei syahid di kantornya pada Sabtu pagi.
“Dalam beberapa saat, operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap Israel dan pangkalan teroris Amerika akan dimulai,” sebut pernyataan IRGC seperti dikutip stasiun televisi pemerintah Iran itu.
Pada Sabtu, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, serta ke fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung dan libur kerja selama seminggu setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei syahid dalam serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, lapor kantor berita Fars.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei melambaikan tangan saat upacara salat Jumat di Teheran, Iran, 19 Agustus 2005 (diterbitkan kembali 1 Maret 2026). Menurut pernyataan dari media pemerintah Iran yang dirilis pada 1 Maret 2026, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara dalam kampanye militer gabungan Amerika Serikat–Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Teheran.
“Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Alternatifnya adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan,” kata Guterres dalam rapat Dewan Keamanan PBB.
Seperti dilaporkan RIA Novosti dari Markas PBB, New York, Ahad, Guterres mendesak semua pihak segera kembali ke meja perundingan, khususnya terkait program nuklir Iran, guna mencegah krisis semakin memburuk.
Menurutnya, segala upaya harus dilakukan untuk mencegah eskalasi lanjutan yang berpotensi memperluas konflik di kawasan yang sudah tegang.
“Untuk itu, saya menyerukan kepada semua negara anggota agar secara ketat mematuhi kewajiban berdasarkan hukum internasional, termasuk Piagam PBB,” ujarnya.
Guterres juga meminta semua pihak menghormati dan melindungi warga sipil sesuai hukum humaniter internasional serta memastikan keselamatan fasilitas nuklir.
“Mari bertindak secara bertanggung jawab dan bersama-sama untuk menarik kawasan ini, dan dunia kita, menjauh dari jurang konflik,” katanya.