Wamenhub harap evakuasi korban KRL vs KA di Bekasi Timur selesai sebelum siang

Photo of author

By AdminTekno

Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas insiden tragis tabrakan kereta api yang melibatkan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April. Kecelakaan memilukan ini telah merenggut tujuh korban jiwa dan menyisakan duka mendalam.

Hingga Selasa pagi, 28 April, proses evakuasi korban masih terus berlangsung dan belum sepenuhnya selesai. Tiga orang dilaporkan masih terjepit di dalam gerbong khusus wanita, bagian dari rangkaian KRL yang tertabrak lokomotif KA Argo Bromo Anggrek. Situasi ini menambah tantangan signifikan dalam upaya penyelamatan yang sedang berjalan.

“Kami mohon doa restu semoga evakuasi ini bisa selesai sebelum siang hari,” ujar Wamenhub Suntana dalam konferensi pers yang diadakan di lokasi kejadian, Stasiun Bekasi Timur, pada Selasa, 28 April. Beliau pun berharap agar tim evakuasi dapat menyelesaikan tugas berat ini dalam kurun waktu dua hingga tiga jam ke depan, mengindikasikan urgensi penyelesaian proses tersebut demi penanganan yang cepat dan efektif.

Gerbong KA Argo Bromo Anggrek Dievakuasi

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama (Dirut) PT KAI, Bobby Rasyidin, memberikan pembaruan penting terkait evakuasi rangkaian kereta. Bobby menjelaskan bahwa gerbong-gerbong KA Argo Bromo Anggrek telah berhasil dievakuasi, meskipun lokomotifnya masih berada dalam posisi yang masuk ke gerbong KRL yang tertabrak.

Evakuasi dari kereta Bromo Anggrek itu telah kami lakukan. Jadi semua rangkaian sebanyak 12 gerbong itu telah kami lakukan evakuasi ke Stasiun Bekasi. Dan selanjutnya kami juga sudah siap untuk melakukan evakuasi dari lokomotif yang ada pada kereta Bromo Anggrek tersebut,” jelas Bobby, merincikan kemajuan signifikan yang telah dicapai timnya dalam penanganan pasca-kecelakaan.

Namun, proses evakuasi lokomotif tersebut belum dapat dilakukan secara langsung. Bobby menambahkan bahwa pihaknya masih berkoordinasi erat dengan Basarnas. Koordinasi ini diperlukan untuk memastikan setiap langkah diambil dengan sangat hati-hati, mengingat potensi dampak terhadap keselamatan para korban yang mungkin masih terperangkap di dalam kereta.

“Kami berkoordinasi dengan Basarnas untuk mempertimbangkan aspek-aspek kehati-hatian dan keselamatan dari korban yang masih terperangkap di dalam kereta,” tegas Bobby Rasyidin, menunjukkan bahwa prioritas utama dalam penanganan insiden tragis ini adalah keselamatan dan keamanan para korban.

Leave a Comment