
PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan posko tanggap darurat di Stasiun Bekasi Timur serta membuka layanan call center 121 untuk membantu keluarga korban kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek yang terjadi pada Senin (27/4) malam.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan posko tersebut disediakan sebagai pusat informasi sekaligus layanan bantuan bagi keluarga korban yang terdampak insiden tersebut.
“Kami mengadakan posko tanggap darurat di stasiun ini dan melalui call center 121. Jika ada keperluan, keluarga korban dapat menghubungi call center 121 atau mengunjungi posko tanggap darurat kami di stasiun ini,” kata Bobby dalam jumpa pers, Selasa (28/4).
Selain membuka posko, KAI juga melakukan pembatasan operasional KRL Commuter Line. Untuk sementara, perjalanan KRL hanya dilayani hingga Stasiun Bekasi dan belum melayani naik-turun penumpang di Stasiun Bekasi Timur.
Dalam kesempatan yang sama, Bobby mengungkapkan jumlah korban akibat kecelakaan tersebut mencapai tujuh orang meninggal dunia dan 81 orang mengalami luka-luka serta masih menjalani perawatan.
Sementara itu, masih terdapat sekitar tiga korban yang terjebak di dalam rangkaian kereta dan dalam proses evakuasi.
Proses evakuasi disebut berlangsung cukup lama, mencapai sekitar delapan jam, dengan mengedepankan aspek kehati-hatian dan keselamatan korban.
Seluruh rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang terdiri dari 12 gerbong telah berhasil dievakuasi ke Stasiun Bekasi.
Kepala Basarnas, Marsdya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan proses evakuasi dilakukan secara khusus karena kondisi benturan yang menyebabkan lokomotif dan satu gerbong KRL menyatu. Tim SAR harus melakukan ekstrikasi secara teliti untuk menyelamatkan korban yang masih terjepit.
“Saat ini masih ada korban dalam kondisi hidup dan masih bisa berkomunikasi. Tim medis terus mendampingi dan tindakan ekstrikasi dilakukan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perhubungan, Sutana, menegaskan pemerintah akan terus memberikan pembaruan informasi secara berkala setiap 2–3 jam terkait perkembangan penanganan kecelakaan tersebut.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengakses informasi melalui saluran resmi serta memaklumi adanya gangguan layanan kereta akibat fokus penanganan evakuasi korban.