Satpam dalam penembakan di masjid San Diego disebut sebagai pahlawan

Photo of author

By AdminTekno

Keberanian seorang satpam yang tewas ditembak bersama dua jemaah lainnya di sebuah masjid di San Diego pada Senin (18/05) telah mencegah insiden penyerangan bertambah buruk, kata polisi.

Satpam tersebut bernama Amin Abdullah. Dia adalah seorang ayah dari delapan anak, kata juru bicara Council on American-Islamic Relations-San Diego (Cair-SD), Tazheen Nizam, kepada BBC.

“Bisa dikatakan bahwa tindakannya heroik,” kata Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl dalam konferensi pers, Selasa (19/05).

“Tidak diragukan lagi, dia menyelamatkan banyak nyawa hari ini,” sambungnya.

Abdullah dan dua orang lainnya—Mansour Kaziha dan Nader Awad—tewas ditembak oleh dua remaja yang kemudian bunuh diri, kata polisi.

Kepolisian belum merilis identitas kedua remaja tersebut.

Menurut kepolisian, bahwa saat kedua remaja itu berlari melewati Abdullah di pintu masuk masjid, Abdullah melepaskan tembakan dan mereka membalasnya.

Abdullah juga mengunci pintu-pintu masjid sehingga kedua remaja itu tidak bisa masuk.

Tindakan tersebut menyelamatkan banyak nyawa, termasuk 140 anak di sekolah yang merupakan bagian dari masjid, kata Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl.

Dua korban lainnya kemudian menarik perhatian para tersangka di tempat parkir. Kedua orang itu kemudian ditembak hingga tewas.

Wahl mengatakan respons yang diprakarsai Abdullah “tidak diragukan lagi” mendorong para tersangka untuk melarikan diri.

Wahl memuji ketiga korban karena telah mencegah banyak korban jiwa berjatuhan.

Orang-orang yang mengenal Abdullah mengatakan kepada media AS bahwa pria itu telah menjaga komunitas tersebut.

Warga lainnya, dalam penuturan di media sosial, menyebut Abdullah sebagai “orang paling baik yang pernah saya temui”.

Masjid tersebut menyebut Abdullah sebagai “seorang pria berani yang menempatkan dirinya di garis depan demi keselamatan orang lain, yang bahkan pada saat-saat terakhirnya tidak berhenti melindungi komunitas kami”.

Nizam, juru bicara Cair, mengatakan kepada BBC: “Amin Abdullah dicintai oleh semua orang, ia berdiri di sana hari demi hari, selalu tersenyum, menyambut semua orang, menyambut anak-anak yang datang ke sekolah.

“Ia adalah cahaya yang bersinar. Ia adalah pahlawan sejati, seorang syahid.”

Seorang teman keluarga mengatakan kepada Associated Press bahwa Abdullah dikenal luas di masjid tersebut dan telah bekerja di sana selama lebih dari 10 tahun.

“Ia ingin membela yang tak bersalah sehingga ia memutuskan menjadi petugas keamanan,” kata Shaykh Uthman Ibn Farooq kepada kantor berita tersebut.

Baca juga:

  • Pidana kebencian terhadap Muslim di AS ‘naik tajam’ setelah Donald Trump menang
  • ‘Saya lebih memilih bersembunyi seumur hidup di AS daripada kembali ke Somalia’
  • Imigran di AS diburu petugas ICE bahkan saat mereka membuang sampah

Sam Hamideh mengenal Abdullah melalui masjid tersebut dan mengatakan kepada CBS, mitra BBC di AS, bahwa pria itu akan dikenang karena kebaikannya.

“Tidak peduli siapa yang mendekat… siapa pun bisa datang begitu saja dan [Abdullah] akan menyapa mereka, memastikan mereka baik-baik saja,” kata Hamideh.

“Apakah mereka tunawisma dari jalan yang mencari sesuatu, apakah itu anak-anak atau orang lanjut usia.”

Pada Selasa (19/05) malam, menjelang acara doa bersama komunitas Muslim di San Diego, putri almarhum, Hawa Abdullah, mengatakan ayahnya “akan ingin komunitas kami berdiri bersama sebagai satu kesatuan”.

“Itulah warisan yang ia tinggalkan. Dia ingin kita semua menjadi lebih baik, terlepas dari siapa kita, bagaimana kita mengidentifikasi diri,” tambahnya.

Keluarga tersebut menyerukan kepada para pejabat agar berhati-hati dalam membentuk wacana tentang komunitas keagamaan.

Dua korban lainnya, Mansour Kaziha dan Nader Awad, adalah jemaah di masjid tersebut, kata Cair-SD.

Mansour Kaziha membantu merawat area masjid dan toko serba guna. Istri Nader Awad mengajar di sekolah yang merupakan bagian dari pusat Islam tersebut.

Sebuah penggalangan dana daring untuk ketiga korban telah mengumpulkan lebih dari US$2,9 juta (Rp51,4 miliar) hingga Selasa (19/05) sore waktu setempat.

Bagaimana penembakan terjadi?

Penembakan itu terjadi mendekati tengah hari pada Senin (18/05) setelah ibu salah satu tersangka menelepon polisi untuk melaporkan bahwa putranya melarikan diri bersama seorang teman dan mungkin memiliki kecenderungan bunuh diri.

Beberapa jam kemudian, saat polisi mencari dua remaja tersebut, aparat menemukan tiga korban dengan luka tembak di luar Islamic Center of San Diego, termasuk Abdullah.

Tak lama kemudian, polisi menemukan dua tersangka—yang berusia 17 dan 18 tahun—tewas akibat luka yang mereka timbulkan sendiri di sebuah kendaraan beberapa blok dari masjid.

Penembakan tersebut sedang diselidiki sebagai kejahatan kebencian, kata Wahl, seraya mencatat bahwa “retorika kebencian” terlibat.

Pihak berwenang menyita lebih dari 30 senjata api dan sebuah busur silang saat menggeledah tiga tempat tinggal yang terkait dengan para tersangka.

Senjata-senjata tersebut—termasuk pistol, senapan, dan senapan laras panjang—terdaftar atas nama salah satu orang tua tersangka, kata Agen Khusus FBI, Mark Remily.

Baca juga:

  • Donald Trump me-retweet tiga video anti-Muslim: Siapa perempuan di balik itu?
  • Trump hapus unggahan dirinya mirip Yesus – Apa tiga isu utama di balik perselisihan Trump dan Paus Leo XIV?

Penyelidik federal juga menemukan “tulisan-tulisan dan berbagai ideologi yang menggambarkan keyakinan agama dan rasial tentang bagaimana dunia yang mereka bayangkan seharusnya terlihat,” kata Remily.

“Para pelaku ini tidak membedakan siapa yang mereka benci.”

Remily mengatakan belum jelas apakah masjid atau sekolah tersebut merupakan target spesifik dari penembakan.

Para penyelidik juga menemukan sebuah manifesto tetapi tidak membagikan rincian lebih lanjut tentang dokumen tersebut.

Apa respons pemerintah AS?

Wali Kota San Diego, Todd Gloria, menambahkan bahwa para tersangka “tidak mewakili kota kami, tiga pria Muslim ini yang mewakilinya”.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut penembakan tersebut “tidak dapat diterima” dan mendorong warga AS untuk berdoa bagi semua yang terlibat.

“Kami tidak ingin hal itu terjadi di negara kami, dan semoga Tuhan menenangkan jiwa mereka yang kehilangan nyawa,” katanya.

Vance juga mengatakan istrinya, Usha Vance—yang lahir dan dibesarkan di San Diego—”pasti” mengenal orang-orang yang sering mengunjungi masjid tersebut.

Vance menyebut, dirinya serta istrinya sering makan di restoran dekat masjid tersebut saat mengunjungi keluarga istrinya.

“Kekerasan politik, dari mana pun asalnya, tidak dapat diterima di Amerika Serikat. Mari kita berbicara satu sama lain, bukan saling menembak ketika kita berbeda pendapat,” kata Vance, seraya menambahkan bahwa itu adalah prinsip yang juga disetujui oleh presiden.

  • Investigasi BBC: Geng motor anti-Islam mengelola keamanan lokasi bantuan di Gaza
  • Kejahatan kebencian terhadap keturunan Asia di Amerika Serikat meningkat
  • Tiga milisi AS dinyatakan bersalah berencana mengebom sebuah masjid di Amerika

Leave a Comment