
Dua nelayan Somalia—yang mengenakan syal besar untuk menyembunyikan wajah—menoleh ke sana kemari dengan gelisah saat memasuki ruangan untuk sebuah pertemuan rahasia. Mereka hendak memberi tahu saya mengapa mereka baru-baru ini memutuskan menjadi perompak bersenjata api.
“Silakan merekam – kami setuju,” kata salah satu dari mereka sembari duduk dengan gugup untuk wawancara di Kota Eyl.
Perilaku ini sangat berbeda dibandingkan dengan sikap penuh percaya diri para perompak yang dulu berjalan dengan jemawa di pelabuhan yang terletak di antara pegunungan gersang di pesisir Somalia.
Kota ini selalu dianggap strategis, bukan hanya karena lokasinya, tetapi juga karena punya sumber air tawar. Saat aksi pembajakan marak pada awal hingga pertengahan 2000-an, para perompak menjadikan kota itu sebagai markas. Karena itu, kota ini punya sebutan “Harunta Burcadda”, yaitu Ibu Kota Perompak.
Dari sini, mereka menargetkan kapal-kapal kargo yang mengangkut peti kemas ke berbagai tempat di dunia serta kapal-kapal tanker minyak. Akibatnya, sejumlah perusahaan pelayaranterpaksa mengubah rute mereka.
Pemerintah setempat tidak punya pengaruh apa pun dan kepolisian terlalu takut memasuki kota itu.
Para perompak menambatkan kapal-kapal yang mereka bajak di lepas pantai. Bisnis di kota serta kawasan sekitarnya diuntungkan dari pembayaran tebusan.
Antara 2005 dan 2012, Bank Dunia memperkirakan kelompok perompak meraup antara US$339 juta (Rp5,8 triliun) hingga US$413 juta (Rp7,1 triliun).
Namun, nasib para perompak berubah drastis ketika berbagai negara mengerahkan angkatan laut mereka dan mulai berpatroli di perairan sekitar Somalia.
Sebagian besar warga kota menyambut baik langkah ini karena para perompak membawa inflasi yang mencekik, narkoba, alkohol, serta ketenaran buruk yang ditolak oleh para pemuka agama Islam setempat.
Namun, rasa kesal yang telah lama dirasakan terhadap kapal-kapal asing, khususnya kapal pukat ikan, tidak pernah benar-benar hilang di kota yang dipenuhi nelayan dan bergantung pada laut untuk bertahan hidup.
Hingga hari ini mereka menuduh kapal-kapal asing itu mencuri mata pencaharian mereka.
“Kapal-kapal datang dan mengambil semua peralatan serta barang-barang kami,” kata Farah, salah satu nelayan yang menjadi perompak kepada BBC.
Namanya dan juga nama temannya, Diiriye, telah diubah sebagai salah satu syarat wawancara.
Dia dan beberapa orang lain telah menginvestasikan sekitar US$10.000 (Rp173,6 juta) untuk membeli perahu, mesin tempel, dan jaring.
Namun Farah mengatakan tahun lalu awak salah satu kapal pukat asing datang dan mencuri jaring beserta hasil tangkapannya, lalu menembaki mesin hingga rusak.
Keduanya memberikan contoh lain: beberapa kerabat mereka pergi untuk memeriksa jaring mereka suatu pagi dan tidak pernah kembali. Biasanya para nelayan berangkat saat fajar dan kembali sebelum panas siang hari tiba.
Tiga hari kemudian tubuh mereka ditemukan, mengapung ke arah pantai.
“Ada peluru di tubuh mereka,” kata Diiriye. “Mereka tidak membawa senjata; mereka pergi ke laut dengan jaring untuk mencari nafkah.”

Farah melanjutkan: “Kami bekerja dan hidup dari laut. Laut adalah bisnis kami.
“Ketika seseorang mengintimidasi dan merampok Anda, Anda wajib untuk melawan. Mereka yang menyebabkan pertarungan itu. Jika mereka tidak mengambil milik kami, kami tidak akan melakukan pembajakan.”
Pria-pria berusia 30-an tahun ini tidak sendirian dalam mengambil keputusan untuk menjadi perompak.
Menurut pasukan dari Uni Eropa yang tergabung dalam Operasi Atalanta dan berpatroli di perairan terdekat, terdapat 26 serangan perompak antara 2013 dan 2019. Namun, tidak ada satu pun insiden dari 2020 hingga 2022.
Serangan kembali terjadi pada 2023, dengan enam insiden. Kemudian melonjak menjadi 22 insiden pada 2024.
Tren itu terus berlanjut pada 2026, menurut laporan Biro Maritim Internasional.
Pada 21 April 2026, kapal tanker MT Honour 25 bersama krunya dikabarkan disandera saat berlayar dari Oman menuju Somalia.
Kapal tanker MT Honour 25 berisi 17 pelaut. Mereka terdiri dari empat WNI yaitu, Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, dan Fiki Mutakin asal Bogor.
Sisanya, 11 warga Pakistan, satu warga Sri Lanka dan satu warga India.
Baca juga:
- ‘Jangan tembak, saya Muslim’ – Kisah kapten kapal dari Indonesia yang disandera bajak laut Somalia
- Empat tahun disandera di Somalia, bertahan dengan ‘Ibadah, solidaritas’
Sebagian besar aksi perompakan tidak berhasil. Tetapi ketika berhasil, hasilnya besar.
Para perompak mengatakan mereka menerima uang tebusan sebesar US$5 juta (Rp88,8 miliar) saat membebaskan MV Abdullah berbendera Bangladesh, yang dibajak pada Maret 2024.
Pemilik kapal tersebut belum mengonfirmasi hal ini, tetapi mengatakan kapal itu dibebaskan setelah negosiasi.
Sumber-sumber di Negara Bagian Puntland yang semi-otonom, tempat Eyl berada, mengatakan kepada BBC bahwa mereka memperkirakan sekitar 10 geng, masing-masing beranggotakan sekitar 12 orang, beroperasi di wilayah tersebut.
Mereka pergi ke laut selama 15 hingga 30 hari setiap kali, memenuhi kapal cepat kecil mereka dengan AK-47, granat berpeluncur roket (RPG), makanan, dan bahan bakar.
Farah dan Diiriye mengatakan tujuan mereka adalah membajak kapal berukuran sedang di Samudra Hindia. Lalu mereka menggunakan sistem pelacakan GPS kapal tersebut untuk menemukan kapal-kapal lain yang lebih besar.
“Kami bisa menyerang kapal dengan perahu cepat kecil,” kata Farah.
Peluncur roket mereka juga merupakan bagian penting dari strategi.
“Kami menggunakan RPG untuk menghentikan kapal. Ketika kapal tidak berhenti, kami menembak di atasnya. Kami tidak membunuh. Tujuannya untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk membunuh. [Tujuannya] untuk menakut-nakuti mereka,” kata Diiriye.
Baca juga:
- WNI sandera perompak Somalia mengaku terpaksa minum air campur kotoran unta
- ABK Sinar Kudus dilepaskan perompak
Semua persenjataan ini tidak murah. Karena itu, geng-geng tersebut mencari pendanaan dari para investor yang tertarik, sering kali pengusaha dari Kota Garowe dan Bosaso. Para nelayan dan investor ini kemudian membentuk sindikat.
Satu investor mungkin mendanai kapal, investor lain mendanai persenjataan, dan investor ketiga mendanai logistik seperti bahan bakar.
Para pengusaha ini terkadang berinvestasi di beberapa kelompok perompak dengan harapan salah satunya akan “dapat jackpot”, yaitu ketika sebuah kapal berhasil ditangkap sehingga mereka mendapatkan bagian dari tebusan.
Untuk mendapatkan senjata di Somalia itu mudah. Di Eyl, seorang nelayan bisa membeli AK-47 seharga sekitar US$1.200, warisan dari perang saudara selama dua dekade dan bertahun-tahun tanpa hukum.
Farah dan Diiriye mengatakan mereka tidak terlibat dalam masa keemasan pembajakan dan tidak menerima saran dari perompak pensiunan. Beberapa di antara perompak pensiunan itu juga tadinya adalah nelayan yang kecewa.
Sebagian besar perompak lama ini telah meninggalkan wilayah tersebut. Sering kali mereka pergi ke luar negeri atau bertobat.
Dalam satu kasus terkenal, mantan perompak Abdirahman Bakeyle menyumbangkan kekayaannya.
Pada 2020, ia menyumbangkan rumah dan hotel yang dibelinya di Garowe kepada badan amal Muslim dan kini menjadi pendakwah yang berpindah dari kota ke kota di Puntland, menyerukan kehidupan yang sederhana dan bermoral.
Adado, sebuah kota di Somalia tempat para perompak pernah berinvestasi, mendapat julukan “Blue City” karena rumah-rumah mewah yang baru dibangun sering memiliki atap seng dicat biru.
Banyak rumah tersebut kini kosong atau tersedia untuk disewa dengan harga US$100 per bulan.
Di Eyl, para tetua mengatakan warisan utama pembajakan adalah maraknya alkohol, yang sering diselundupkan dari Ethiopia, serta narkoba seperti opioid. Beberapa pria muda bahkan kecanduan.
Para pria yang berkumpul di luar kedai teh pada sore hari untuk bermain domino mengatakan mereka tidak menyetujui pembajakan—meskipun mereka memahami sikap para nelayan yang benci terhadap kapal asing.
Insiden terbaru tiga nelayan yang ditembak mati jelas membuat banyak orang geram.
Ali Mursal Muse, yang telah menangkap lobster dan hiu di perairan Eyl selama sekitar 40 tahun untuk menghidupi istri dan 12 anaknya, meyakini mereka disangka perompak.
“Kami berangkat dari sini dengan kapal nelayan lain dan pergi ke laut. Pada saat yang sama para perompak mencoba membajak sebuah kapal. Sebuah pesawat datang. Kapal saya kembali ke pantai; kapal nelayan yang lain diserang,” kenangnya.

Hawa Mohamed Zubery adalah seorang janda berusia 40 tahun. Dia meyakini suaminya disangka perompak ketika ia menghilang 14 tahun lalu.
Hal itu terjadi ketika pembajakan sedang marak-maraknya dan Hawa baru saja melahirkan seorang putra.
“Suami saya berpikir bahwa jika ia menangkap seekor hiu, kami bisa membayar biaya persalinan,” katanya kepada BBC.
Hawa mengatakan kesulitan membayar biaya sekolah anak-anaknya dari penghasilannya menjual samosa.
Ali Mursal Muse mengatakan masalah utama baginya saat ini adalah perilaku tidak etis armada penangkap ikan dari negara-negara seperti Iran dan Yaman, yang sering mencuri peralatannya.
Dia percaya kapal-kapal itu diberi izin penangkapan ikan yang palsu oleh penguasa lokal, yang juga menyediakan orang-orang bersenjata untuk perlindungan.
Dia menuduh mereka menjarah hasil tangkapan dan menyerobot wilayah tangkapannya.
“Mereka punya zona tempat mereka bekerja dan bahkan datang sampai ke pantai. Ketika kami meminta kembali peralatan kami, mereka menembaki kami. Baru-baru ini, mereka melukai beberapa orang. Mereka menembak seorang anak laki-laki, melukai tangan dan kakinya.”
Nelayan itu mengatakan ia telah mengadukan hal ini kepada otoritas setempat berkali-kali, tetapi tidak pernah ada tindakan.
Baca juga:
- Serangan perompak laut menurun drastis di perairan Indonesia
- Kelompok bajak laut yang menjaga perdagangan dan budaya ketika tatanan politik Jepang rusak pada abad ke-14
Menteri Informasi Puntland, Caydid Dirir, mengakui keberadaan beberapa kapal ilegal dan mengatakan beberapa kapal asing mungkin diberi izin dan “menyalahgunakannya”.
“Penangkapan ikan ilegal ada di semua laut, dan pembajakan bisa terjadi di mana saja. Kemajuan sedang dicapai secara bertahap,” katanya kepada BBC.
Penangkapan ikan ilegal telah menjadi isu kontroversial di Somalia selama bertahun-tahun.
Banyak kapal penangkap ikan beroperasi tanpa izin atau dengan izin yang dikeluarkan oleh lembaga yang tidak memiliki kewenangan untuk melakukannya, menurut Global Initiative against Transnational Organised Crime.
Lembaga tersebut mengutip bukti, termasuk data navigasi satelit, yang menunjukkan bahwa banyak kapal berasal dari China, Iran, Yaman, dan Asia Tenggara.
Sebuah laporan dari Kedutaan Besar AS di Mogadishu menyebutkan Somalia kehilangan US$300 juta setiap tahun akibat hal ini.
Laksamana Muda, Manuel Alvargonzález Méndez, dari Operasi Atalanta mengatakan pasukannya hanya menargetkan kapal perompak dan kini juga harus melindungi kapal dari pemberontak Houthi Yaman.
Namun ia menegaskan kawasan tersebut jauh lebih aman dan warga Somalia kini dapat “melempar jaring ikan mereka tanpa rasa takut” – demikian pula Pasukan Polisi Maritim Puntland, yang bekerja erat dengan misi angkatan laut Uni Eropa.

Komandannya, Farhan Awil Hashi, yakin bahwa wilayah itu tidak akan kembali ke “masa kelam” pembajakan.
Ia percaya solusi jangka panjangnya adalah “penciptaan lapangan kerja”.
“Anak muda harus selalu memiliki pekerjaan. Jika seseorang sibuk melakukan sesuatu, mereka tidak akan memikirkan untuk pergi ke laut dan membajak kapal,” katanya kepada BBC.
Farah dan Diiriye menyampaikan argumen yang sama – mereka mengatakan karena penangkapan ikan tidak lagi menghasilkan, membajak kapal untuk tebusan adalah satu-satunya cara mendukung anak-anak mereka.
Mereka tahu pembajakan itu salah – dan Diiriye mengakui ia terlalu takut untuk memberi tahu ibunya sendiri.
“Jika ia tahu, ia akan sangat kecewa. Bahkan, ia akan melaporkan kepada pihak berwenang.”
