Mitos atau fakta, perlintasan sebidang sebabkan kendaraan mogok?

Photo of author

By AdminTekno

Hingga kini belum ada jawaban pasti yang dapat menjelaskan fenomena kendaraan bisa mogok tepat di tengah rel ketika hendak menyeberangi perlintasan sebidang. Contoh kasus taksi Green SM yang menjadi pemicu awal kecelakaan dua rangkaian kereta di Bekasi.

Seperti biasa, tak sedikit warganet memainkan perannya untuk melemparkan argumen hingga spekulasi dari penyebab dari fenomena tersebut di jagat maya. Paling banyak terlontar adalah kaitannya dengan ‘elektromagnetik’.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rahman Priandana mencoba menjelaskan penyebab kendaraan dapat mengalami mogok di tengah rel.

“Dahulu sempat heboh, kalau rel KRL memiliki ‘efek impedansi’ yang bisa menyebabkan mobil baik itu ICE (internal combustion engine) dan BEV (battery electric vehicle) menjadi mogok di atas rel. Setelah saya cek publikasi reputasi tinggi global terindeks scopus, tidak ditemukan bahwa ‘efek impedansi’ dapat menyebabkan kegagalan kelistrikan kendaraan,” buka Eka kepada kumparan, Rabu (29/4/2026).

Lebih lanjut, penggunaan istilah ‘efek impedansi’ itu sendiri, kata Eka berawal dari media. Jadi menurutnya bukan istilah dari peneliti yang bidangnya fokus pada kelistrikan dan elektromagnetik, makanya tidak ada yang secara tegas menyatakan ‘efek impedansi’ sebagai penyebab kelistrikan mobil mati.

“Hanya ada satu jurnal yang membahas ‘efek impedansi’ pada rel kereta ini, yakni dari Universitas Negeri PGRI Kediri. Menurut peneliti yang menulis jurnal tersebut, terukur rel kereta hanya memancarkan medan elektromagnetik sebesar 82 microTesla alias tidak cukup kuat untuk mengacaukan sistem ECU (Electronic Control Unit) kendaraan,” terangnya.

“Banyak yang berkomentar itu karena intervensi elektromagnetik atau ‘efek impedansi’, tetapi mobil-mobil sebelumnya yang berhasil menyeberang rel itu kan harusnya sudah banyak dan tidak terjadi apa-apa. Lantas, mengapa satu kendaraan itu yang mengalami langsung diambil kesimpulan karena intervensi elektromagnetik rel?” jelas Eka.

Dugaan sementara menurut Eka, faktor penyebab kendaraan listrik Green SM yang melintang di tengah rel dan akhirnya tertemper kereta di Bekasi Timur itu dapat diamati dari beberapa perspektif.

Pertama adalah faktor psikologis dari pengemudi atau disebut sebagai panic stall saat melewati pelintasan rel. Kedua guncangan elektromekanik saat melewati pelintasan ada yang menyebabkan sambungan kendur sehingga terjadi kegagalan fungsi.

Ketiga terkait dengan kondisi kendaraan itu sendiri yang mengalami anomali sehingga terjadi kegagalan fungsi. Untuk mengetahui penyebab sesungguhnya adalah dengan menunggu hasil investigasi dari Green SM setelah membaca logger dari ECU armadanya.

Senada dengan Eka, pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar juga membantah teori penyebab taksi Green SM atau kendaraan listrik secara umum dapat mogok di tengah perlintasan karena efek medan listrik di lokasi.

“Soal efek kelistrikan karena kereta? Menurut pendapat saya ini mitos. Kemungkinan mobil tersebut mogok karena memang masalah kelistrikan yang ada pada kendaraan itu sendiri atau mungkin aki/baterai 12V soak,” ujarnya kepada kumparan, Selasa (28/4).

Lebih-lebih, Gofar mendorong perusahaan taksi Green SM untuk melakukan investigasi lebih lanjut dan terbuka terhadap masalah yang menyebabkan sistem kelistrikan pada armadanya dapat padam seperti itu.

“Soal EV mogok itu sudah banyak studinya, lembaga penanganan breakdown ADAC di Jerman merilis hampir setengah kasus mogok disebabkan oleh aki 12V yang soak atau rusak. Tetapi lainnya juga bisa dari kesalahan software yang terdapat bug,” kata Gofar.

Leave a Comment