Komisi XI DPR minta BI jaga rupiah kembali ke level Rp 16.500 per dolar AS

Photo of author

By AdminTekno

Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, baru-baru ini menggelar pertemuan krusial dengan Bank Indonesia (BI) pada Senin (18/5). Fokus utama diskusi adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sebuah isu yang memiliki implikasi luas bagi perekonomian nasional. Dalam kesempatan tersebut, Misbakhun mendesak BI untuk segera melakukan operasi moneter yang terukur guna menstabilkan dan menguatkan mata uang Garuda.

Misbakhun secara tegas menyatakan harapannya agar nilai tukar rupiah dapat kembali menyentuh level yang telah disepakati dalam asumsi makro APBN 2026, yakni Rp 16.500 per dolar AS. “Kami meminta Bank Indonesia melakukan operasi moneter yang terukur yang bisa memberikan dampak langsung terhadap penguatan nilai tukar rupiah. Bahkan, kita minta rupiah dikerek kepada angka kesepakatan politik di Rp 16.500, sesuai dengan keputusan asumsi makro di APBN,” ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta.

Kritiknya tak berhenti di situ. Misbakhun menyoroti fakta bahwa sejak 1 Januari 2026, nilai tukar rupiah belum pernah menyentuh level Rp 16.500 tersebut. Menurutnya, kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi Bank Indonesia. “Sejak 1 Januari 2026 rupiah itu belum pernah berada di level 16.500. Nah, inilah yang harus dijadikan perhatian oleh Bank Indonesia bagaimana nanti supaya rata-rata nilai tukar itu bisa sesuai dengan asumsi makro,” tambahnya, menekankan pentingnya intervensi BI.

Stabilitas rupiah, menurut Misbakhun, adalah fondasi penting yang berdampak langsung pada berbagai sektor, terutama impor energi. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan akan merembet dan menimbulkan efek domino yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Ia menjelaskan bahwa tidak hanya pemerintah yang menanggung beban impor BBM dan LPG, tetapi juga pihak swasta.

“Yang merasakan tidak hanya pemerintah yang melakukan impor terhadap BBM, kemudian LPG, tapi juga kepada pihak swasta yang menggantungkan sebagian bahan baku produksi mereka kepada impor,” kata Misbakhun. Ia mencontohkan, produsen plastik kini terpaksa mencari alternatif bahan baku karena tekanan nilai tukar yang melemah, menunjukkan betapa krusialnya penguatan rupiah untuk menjaga daya saing industri domestik.

Menanggapi desakan tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyuarakan optimismenya. Perry meyakini bahwa nilai tukar rupiah masih berada dalam koridor asumsi dasar makro APBN 2026. Ia memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS untuk tahun penuh (full year) 2026 akan mencapai Rp 16.500 per dolar AS, dengan rentang pergerakan antara Rp 16.200 hingga Rp 16.800.

Optimisme Perry didasari oleh keyakinan bahwa tekanan nilai tukar rupiah saat ini bersifat sementara. Ia menjelaskan bahwa rupiah memang sedang dalam kondisi undervalued akibat tingginya permintaan valuta asing, terutama pada periode April, Mei, dan Juni. Namun, Perry memproyeksikan penguatan rupiah akan terjadi kembali mulai Juli-Agustus 2026.

“Kami masih meyakini 2026 ini rata-rata nilai tukar seluruh tahun adalah Rp 16.500 (per dolar AS), kisarannya Rp 16.200 sampai Rp 16.800, itu masih kami meyakini. Karena rata-rata year to date-nya Rp 16.900,” terang Perry. “Seasonality-nya April, Mei, Juni karena demand-nya lagi tinggi seperti itu, dan nanti Juli, Agustus akan menguat, sehingga secara keseluruhan kami masih ke sana,” pungkasnya, menunjukkan harapan akan kembali stabilnya nilai tukar rupiah.

Leave a Comment