Blokade Selat Hormuz bikin 20% pasokan global terancam, harga minyak tetap tinggi

Photo of author

By AdminTekno

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah dunia menguat pada awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz.

Data Trading Economics pada Selasa (3/3/2026) pukul 15.15 WIB menunjukkan harga minyak mentah WTI mencapai US$ 73,83 per barel, naik 3,62% dibandingkan hari sebelumnya dan 12,78% dalam sebulan terakhir. Sedangkan, harga minyak brent dibanderol US$ 80,65, naik 3,77% dari hari sebelumya dan 15,98% dari dalam sebulan terakhir. 

Adapun, harga gas alam mencapai US$ 3,09 per MMbtu, naik 5,10% dari hari kemarin.

OJK: Tensi Geopolitik Timur Tengah Berpotensi Picu Volatilitas Pasar Keuangan Global

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan blokade di Selat Hormuz bukan sekadar hambatan logistik, tetapi ancaman hilangnya 20% pasokan minyak mentah dunia secara mendadak dari pasar global. 

“Secara teknikal, Brent dan WTI kemungkinan besar akan tertahan di level support baru yang tinggi (area US$ 75 – US$ 80) selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda,” ujar Sutopo kepada Kontan pada Senin (2/3/2026).

Menurut Sutopo, kondisi ini diperparah oleh keputusan kelompok OPEC+ pada hari Minggu (1/3) hanya menambah produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai bulan depan. Ia menilai, angka tersebut terlalu konservatif dan tidak cukup untuk menambal potensi kekosongan pasokan dari Iran atau gangguan pengiriman regional.

“Ketidakseimbangan antara permintaan global yang tetap stabil dengan risiko jalur pasokan yang terputus menciptakan fundamental yang sangat bullish bagi harga komoditas energi,” imbuh Sutopo.

Sutopo meyakini lonjakan harga energi akan memicu tekanan berat pada pasar saham global dalam jangka pendek melalui mekanisme inflasi biaya (cost-push inflation). Selain itu, kenaikan harga minyak yang drastis akan langsung membebani sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi, yang pada gilirannya menurunkan ekspektasi laba emiten

“Investor cenderung akan melakukan rotasi modal keluar dari aset berisiko (ekuitas) menuju aset aman (safe haven) seperti emas atau obligasi pemerintah,” kata Sutopo. 

5 Program Loyalitas Crypto: Binance VIP, Pintu VIP, Pluang Plus, Bybit, Bitget

Jika harga energi tetap tinggi dalam waktu lama, Sutopo khawatir akan ada pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh bank sentral untuk meredam inflasi dapat memicu koreksi tajam pada indeks saham utama di Wall Street maupun bursa Asia.

Leave a Comment